Saya Orang Aceh, Bukan Equador

Secuil kisah di S-Bahn Köln

Ketika aku melangkah ke dalam salah satu gerbong S-bahn jurusan Bergish Gladbach, kudapatkan banyak kursi tak terisi. Hal ini membuatku tidak terlalu sulit memilih dan memutuskan di kursi mana pantat ini kutitipkan. Sesaat setelah sang pantat merasakan empuknya kursi itu, S-bahn pun melaju. Kursi di sampingku kosong, sehingga aku bisa menaruh ransel yang sebelumnya bergantung pasrah di punggungku. Begitu juga dengan dua kursi yang ada di depanku, kosong,  menunggu untuk diduduki.

Siang itu memang sedikit lenggang dari biasa. Entah karena cuaca yang sedikit mendung atau memang karena aku pulang lebih awal. Tidak hanya di dalam kereta yang sedang kunaiki, tapi juga di Köln Hbf yang baru saja aku tinggali. Di sana juga terasa lebih senggang dari hari-hari yang lain. Karena tak ingin memusingkan diri dengan berbagai spekulasi, kuanggap saja hari ini sebagai hari yang memang sepi.

Selang beberapa menit, kereta berhenti tepat di sebuah stasiun. Kuperhatikan ada beberapa orang yang turun tetapi bukan dari gerbongku. Di luar sana, sepasang manusia mendekat ke pintu gerbong tempat kuberada, meletakkan jari di sensor bulat yang ada di pintu dan secara otomatis, pintu gerbong pun terbuka.

Dengan memegang beberapa ikat besar bunga segar berwarna merah di tangan, mereka masuk dan duduk di dua kursi yang ada di depanku. Aku heran, banyak kursi lain yang masih kosong, kenapa mereka “memaksa“ duduk di depanku. Kewaspadaanku mulai memberikan peringatan awal!

Pintu gerbong kembali tertutup otomatis dan keretapun kembali berjalan perlahan.

Dan seperti yang aku tebak sebelumnya, tanpa mengucap sepatah kata, si pemuda yang duduk tepat di depanku menyerahkan seikat bunga yang ada di tangannya, di letakkan tepat di pangkuanku. Aku tau persis, mereka ingin aku membeli bunga tersebut.

“Nein. Danke,” kataku sambil mengembalikan ikatan itu ke atas bunga-bunga lain di tangannya.
“Für deine Frau”
“Ich hab keine Frau”
“Deine Freundin?”
“Keine freundin”
“Dein fruend?”
“Peu ka keneuk pakat meu lhe nyeh?” tiba tiba suara protes berteriak keras dalam hati, tapi sambil berpaling ke arah jendela, aku mencoba menahan emosi .

“Kommen sie Aus Spain?” Tanya si cowok masih kekeuh mengajak aku berbicara
“Nein!”
“Equador?”
“Nein!”
“Peru?”
“Nein.” jawabku sambil terus menggeleng.

“Woher kommen Sie denn?”
“Aus Aceh!”
“Acee? Wo liegt das?” kembali tanya si cowok karena sepertinya belum pernah mendengar tempat ini.
“In Asien!” jawabku irit.

“Meksiko?”
“Es ist in Asien, wisst du das?” Tiba-tiba si cewek yang sedari tadi terdiam angkat bicara, sambil menyenggol pasanggannya dengan sikunya, mencoba mengoreksi kesalahan yang baru saja di tanyakan.

Aku hanya terdiam, sambil tertawa dalam hati. Ingin kucoba jelaskan dari mana aku berasal dan di mana letaknya kampungku. Namun, rasa dongkol masih berselimut dalam hati. Setelah pertanyaan dia sebelumnya yang mirip orang ngajak berkelahi. Sejenak aku tersadar, aku kini berada di dunia yang kadang-kadang di luar jangkauan akal manusiawi.

Karena miskinnya kata-kata yang keluar dari mulutku, merekapun menyerah dan tidak lagi memaksaku untuk membeli bunganya. Aku pun pura-pura sibuk menekan tombol yang ada di ponselku, padahal aku tidak sedang menghubungi siapapun atau sedang menerima pesan dari siapapun, hanya untuk menghindari diri dari percobaan transaksi illegal yang mereka inginkan denganku. Aku berhasil!!

Di stasiun yang kutuju, kereta berhenti. Dengan menjinjing ransel, aku melangkah keluar kereta sambil senyum-senyum sendiri. Hm, untuk kesekian kali, aku dipikir orang latin. Hehe!

Latin dari pane? Latin dari Seulimeum?😀

Köln, Pertengahan Agustus 2011

catatan bawah kaki😀 (soalnya ada yg nanya kenapa saya tiba-tiba marah). percakapan dalam bhs jerman diatas artinya kira2 gini;

“Für deine Frau” ((bunganya) untuk istri kamu)
“Ich hab keine Frau” (saya gk punya istri)
“Deine Freundin?” (Untuk pacar (cewek) kamu)
“Keine freundin” (saya gk punya cewek)
“Dein fruend?” (Untuk pacar cowok kamu)
grrrrrr……..

karena jawaban saya ngga punya istri, ngga punya pacar/cewek, jadi dia pikir saya ini gay dan punya cowok, sontak saja kata-kata gini bikin saya erosi. Hehe… Sebenarnya dsini sangat “normal” kalo seseorang ngga punya cewek ya artinya dia punya cpwok. So, ya gitu deh. Hehe

Kalau masih ada yangg membingungkan terutama bahasanya, mohon ditanyakan kembali😀
moersalin

12 thoughts on “Saya Orang Aceh, Bukan Equador

  1. Gak usah resah kalo di tuduh orang dari Equador ….. santai aja ….. kalo dituduh punya pacar cowok (alias gay), yo salah anda sendiri….. napa gak cepat2 nikah…..nyambungkah komentar saya ni dengan tulisan anda???? Kalo gak nyambung ya mohon dimaafkan, okeeyy……..! Saya tunggu tulisan anda berikutnya……..good job!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s