Gadis di Stasiun Kereta

IMAG1364Saat aku turun dari S-Bahn, rasa kecewaku masih begitu kentara, aku berjalan lunglai, seperti tidak ada yang kuharapkan lagi di dunia ini. Aku mendekat di papan jadwal kereta yang menuju ke stasiun dekat rumahku “masih 10 menit lagi”, aku melangkah beberapa meter ke kiri, dan tepat di depan toko kebab yang ada di stasiun itu, aku berhenti.

“Doner kebab einmal bitte, zumitnem…”

Tiba-tiba kalimat memesan keluar begitu saja dari mulutku, padahal perutku sama sekali tidak minta di isi. Si penjual kebab selanjutnya sibuk dengan pesananku. Sedangkan aku yang sedang dilanda kedinginan, sekali kali menggigil karena rupanya jaket yang aku pakai cukup tipis dan belum mempu melawan dinginnya angin Berlin malam itu.

Sambil melihat jam di tangan kiriku, hampir jam 10 malam, Aku mengeluarkan duit logam 2,50 euro dari kantong celana ku, si penjual yang berwajah turki itu meletakkan kebab di depanku, uang yang tadi telah kusiapkan langsung kuserahkan ke dia.

„Guten essen“ katanya sambil membelakangiku dan meletakkan uang yang baru saja kuberikan kedalam lacinya.

Kurasakan, sejak aku turun dari kereta, ada sepeasang mata yang terus memperharikanku, kerena memang stasiun saat itu sedang sepi, hanya ada aku yang sedang menunggu kereta, si penjual kebab di dalam kiosknya, seorang orang tua yang sedang mabuk terduduk tak beraturan di atas kursi, dan seorang gadis terduduk kurang manis di tangga disamping toko kebab.

Aku berjalan ke tangga itu, karena memang kereta atau Bus yang seharusnya aku naiki ada dilantai bagian atas, ketika aku mendekat, si gadis ini berdiri;

„Entschuldigung, haben Sie etwas zum essen?“
„ja?, jawabku bingung
„ich bin hungrig“ jawabnya sedikit malu dan menunduk.

Tiba-tiba rasa iba-ku muncul, kulihat sekilas, dia tidak mirip dengan peminta-minta kebanyakan yang sering kujumpai di ibukota Jerman ini. Dibilang obdahloss juga tidak cocok karena usianya masih muda dan seharusnya masih dibawah tanggungan orang tua.

“Aku Cuma punya kebab, kamu mau?”, jawabku sambil menyerahkan kebab yang baru saja aku beli dengan kananku,
si gadis itu langsung saja mengambilnya dengan kedua tangannya, membuka bungkusnya dan langsung di makan.

“Danke, danke sehr“ ucapnya sambil terus mengunyah kebab yang memenuhi mulutnya, aku sempat tersenyum sendirian, melihat dia makan seperti itu, jadi ingat adikku ketika buka puasa, maunya semuanya di masukkan ke dalam mulut di waktu bersamaan.

IMAG0720Dari atas tangga, aku masih memperhatikan dia, pakaiannya cukup rapi, tidak nampak kusam sama sekali, bahkan cenderung stylish, rambutnya pirang hanya tertutup dengan topi hitam kecil, jaketnya kulit hitam menutup baju kaus yang di pakainya, celana jeans biru tua ketat dan sepatu hitam yang hampir selutut tingginya, sama dengan pakaian anak-anak Jerman seumuran dengan dia, namun yang bikin aku penasaran, kenapa gadis seperti ini berada disini sendirian?

Aku perhatikan dengan jelas, kebab yang baru saja kuberikan hampir setenganya dia makan, dan ia mulai nampak kehausan, aku kembali turun ke toko kebab tadi, melewati dia yang sedang menikmati makanannya.

„Mineral wasser bitte, ohne kohle“

Sebuah botol minuman kembali aku aku tebus dengan sekeping logam 1 euro, aku melangkah kembali mendekati gadis itu.

“Ini airnya silakan diminum“

Dia tampak ragu-rgu untuk mengambil, tapi aku yakin, karena hausnya, tetap saja dia ambil dan langsung diminum.

“Danke“ sekali lagi keluar dari mulutnya.

„Kann ich hier sitzen?“ Jangan takut, saya tidak bermaksud apa-apa, saya hanya menunggu Bus”, kataku menjelaskan

Dia hanya terdiam sedikit mengangguk, sambil mencoba menghabiskan kebab yang aku berikan tadi.
Aku terduduk di sampingnya, terdiam dan belum berani untuk mengajak dia berbicara. Orang Jerman memang tidak mudah untuk berbicara dengan orang yang tidak dikenalnya, dan aku pahami hal ini dengan baik dan aku mencoba menghormati hal tersebut.

Si gadis itu telah menghabiskan kebabnya dan kini ia minum dari botol yang juga aku berikan
“Du bist sehr nett”, tiba-tiba kata tersebut keluar dari mulutnya, agak serak terdengar,
aku hanya tersenyum,

„Kamu masih lapar?“
“Nein, danke, das it genug”, dia menjawab tanpa melihat ke aku, mungkin malu, aku juga meluruskan pandanganku kedepan.

“Anda pulang kemana?” tiba-tiba dia bertanya.
Oo, saya ke erasmussstrse, kalau kamu?
Kali ini dia menunduk, menutup mukanya dengan kedua tangannya, dan kini aku berasa bersalah

„Oh, maaf, kalau kamu gk mau bilang juga gak apa apa“
Dia tetap menunduk, kali ini aku tak berani melihat dia. Suasana hening beberapa saat, aku pingin pergi, tapi di atas sana pasti lebih dingin, jadi kuputuskan untuk tetap duduk disini.

„aku lari dari rumah, mamaku marah ke aku“ tiba-tiba kembali dia biacara.
Ach so, sorry to know that, jawabku tiba-tiba dalam bahasa inggris.

“semalam aku party, sampai jam 5 pagi, begitu aku sampai di rumah, mamaku sudah menungguku, dia marah-marah, dan aku diusir, aku tidak bawa apa-apa, tasku tidak sempat aku ambil, begitu juga dengan handyku. Aku keluar begini saja.”

Selanjutnya dia bercerita panjang lebar, aku kaget, sangat jarang ada orang yang mau cerita masalah pribadinya dengan orang yang tidak dia kenal.

“karena itu aku gak bisa apa-apa, tidak bisa beli makanan, tidak bisa nelpon temanku, dari rumah sampai kesini aku juga jalan kaki, dari pagi aku baru makan sekali, tadi siang ada yang memberikan makanan sisa, tapi aku tidak mau makan, jijik. Aku duduk disini dengan harapan ada kawan sekolahku yang lewat disini, tapi dari tadi belum ada seorangpun”, dia terus bercerita sambil menunduk.

“Oh, saya mengerti perasaan kamu, apa kamu masih sekolah“
„iya, saya di gym, dan besok harus sekolah, tapi saya gk berani pulang, saya takut mama masih marah kesaya“

„Kenapa kamu begitu yakin?“
“Tidak tahu, pokoknya saya takut“

“Kamu bukan orang jerman kan?, tanyanya tiba-tiba.
“Bukan, saya org Aceh, Indonesien, saya student disini“

“Berapa lama kamu sudah disini?“
“Baru beberapa bulan“
“Trus, kamu dari mana?“
“Baru dari party ulang tahun teman saya, tapi saya pulang cepat……saya kecewa“
“warum?”
“Sebelum berangkat, saya sangat bersemangat, karena ada gadis yang saya taksir juga ke party itu, dia baru pulang dari London, jadi sudah 2 minggu kami tidak ketemu, saya sudah lama taksir sama dia, tapi gak berani untuk ngomong, takut di tolak, jadinya saya berteman saja dengan dia”. “saya sudah siapkan hadiah untuknya, namun ketika tiba disana, dia ternyata sudah punya pacar….jawabku terdiam.

Gadis yang tadinya malu-mlu kini malah nampak bersemangat,
“emang kamu sebelumnya gak tau kalau dia sudah punya pacar?”
“tidak, soalnya aku tidak pernah berani untuk bertanya”

He he he…tiba-tiba tawa kecil keluar dari mulutnya. Aku juga kaget, kenapa masalah ini bisa aku curhat kedia.

“sepertinya kita punya masalah yang mirip, kamu baru saja kecewa, aku sudah dari tadi kecewa. Sama-sama kecewa”, ringkasnya sambil tersenyum.

Suasana tiba-tiba sepi, tak ada kata yang keluar dari mulut kami, hanya terduduk di sudut tangga stasiun. Angin berhembus kencang, kami tak pernah saling memangdang, mungkin merasa malu karena bulat sabit mengintip dari kejauhan…

“ni, kamu coba telepon mamamu” kataku sambil menyerahkan telepon genggamku kedia. Dia tampak ragu mengambilnya, tapi setelah kuyakinkan, dia menerimanya.

Dia bangkit dan memencet nomor-nomor yang ada di teleponku, berjalan beberapa langkah menjauh dari tempat kami duduk, dan selang beberapa saat kemudian, dia mulai berbicara, dengan bahasa Jerman yang super cepat dan hanya sebahagian aku pahami. Intinya dia meminta maaf ke mamanya kerana telah melarikan diri, dan terakhir dia bilang dimana dia saat ini.
Dia menutup telepon dan menyerahkan kembali kepadaku.

“5 menit lagi mamaku kemari menjemputku“
“thats good“ jawabku singkat.
Selanjutnya kami hanya duduk, diam seribu bahasa, kadang-kadang tersenyum, tapi malu dengan diri kami masing masing.

“itu keretamu kan?”
“iya, tapi aku naik yang selanjutnya saja, atau aku naik bus saja, nanti setelah kamu di jemput mamamu”
“Du bist sehr neet”…jawabnya sambil mencoba memelukku, langsung saja ku menghindar dan pura-pura minum sisa air di botol yang belum di habiskannya.

“Danke” aku menjawab sambil tersenyum.
„So, kamu punya boyfriend?“
“Na ja, hmmm…..”

Aku tidak bertanya lagi, dia pun hanya membisu, beberapa saat kemudian, sebuah mobil BMW mewah dengan 2 pintu berhenti di dekat halte di samping jalan dekat terminal dimana kami duduk, dari sini kami bisa melihat jelas mobil itu,

“itu mamaku“
Aku kaget, rupanya gadis yang bar saja aku ajak bicara bukan anak sembarangan, pasti anak orang kaya, keran untuk ukuran orang Jerman, hanya yang high class saja yang affordable untuk membeli mobil seperti ini.

Seorang wanita paruh baya keluar dari mobil dan melihat-lihat sekeliling.
“Dia mencarimu, sampai jumpa“ kataku sambil menyerahkan tangan untuk bersalaman.

“Danke, ich bin kiki, du?“

“Ich bin Herr Alleinmann“, jawabku singkat. Aku yakin dia enggak percaya dengan nama yang baru saja kuberikan, tapi dia tidak protes, dia membelakangiku, menjauh dan menuruni tangga dan menuju mamanya. Saat berdekatan mamanya pun berjalan cepat ke arah dia sambil memeluknya, kulihat ada kilauan air di mata mereka, aku tidak dengar mereka berbicara apa, tapi aku yakin, mereka saling meminta maaf.

Aku melangkah naik ke atas, sebuah bus telah berdiri disamping halte kecil di depan stasiun, langsung saja kunaiki, dan duduk di dekat, jendela. Dari sini aku masih bisa melihat mereka menaiki BMW mewahnya, saat mau masuk kedalam mobil, kiki masih mencoba melihatku di tempat kami terakhir berpisah, tapi aku sudah tidak ada lagi disana.

Lampu sedan itu menyala, dan perlahan mulai bergerak, begitu juga dengan bus yang aku naiki. Berjalan lambat meninggalkan stasiun dimana sebuah cerita baru tertuliskan.

Aku tersadar, kekesalanku akan gadis yang tak pernah aku sebutkan nama kini mulai terlupakan. Bahkan aku mulai berfikir tentang kiki, hah?

####

(semoga ada sambungannya…:))

9 thoughts on “Gadis di Stasiun Kereta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s