“Suami Takut Istri”

Aku punya seorang kawan dekat yang sedikit kisahnya akan keceritakan kali ini. Dia seorang dosen di sebuah universitas, pengusaha sukses dan pernah juga menjadi anggota dewan di tingkat provinsi, walau setelah dua tahun menjabat, dia mengundurkan diri karena berbagai alasan yang hampir semuanya pernah dia ceritakan kepadaku.

Namun, aku tidak mau menceritakan tentang karir politiknya, tapi tentang kehidupan keluarganya yang menurut aku sedikit “aneh“. Dia punya seorang istri yang hanya lulusan SMA, dan baru menjadi sarjana seteleh mereka menikah dan kuliahnya dibiayai oleh dia, punya 3 orang anak, 2 sedang di bangku kuliah dan yang paling kecil masih SMP. Dari luar keadaan keluarganya tampak sangat bahagia, punya rumah yang relatif besar, 2 mobil walau tak terlalu mewah, dan beberapa toko pakaian di pusat kota. Tapi sebagai kawan dekat, aku tahu hampir seluruh seluk beluknya. Semua masalahnya diceritakan ke aku, karena memang kami sudah berkawan dekat jauh sejak ia belum berkeluarga, saat kami masih di bangku kuliah dulu.

Sejak ia pertama kepeleset cinta (aku tidak suka pakai istilah jatuh, takutnya ntar ngak sanggup bangun lagi) pada seorang gadis yang dia kenal di robur*, dia hanya cerita ke aku dan minta saran2ku. Selanjutnya aku menjadi kurir cinta mereka, karena selain sebagai tukang tulis surat (cinta), aku pula yang sering harus mengantarkan ke rumah si dara itu dan berhadapan langsung dengan bapaknya yang saat itu menurutku sadies.

Ketika ia hendak menikahpun, aku harus menjadi “seulangke*“ dan mewakili keluarga dia untuk melamar sang gadis, yang saat itu baru lulus SMA. Parahnya lagi, mahar untuk dia nikahpun harus minjam ke kawan-kawannya, termasuk aku, dan sampai setik ini belum seluruhnya terbayar. Mungkin ia sudah lupa, tapi sudah aku iklaskan saja. Setelah ku pikir-pikir, hanya ijab kabul nikahnya saja yang dia ucapkan sendiri, aku tidak dilibatkan. Tidak heran memang jika seterusnya, kami terus menjadi kawan dekat, saling curhat, bahkan ke hal-hal yang masuk dalam kategori pribadi.

Jujur saja, kadang aku merasa segan untuk berbicara dan mendengar curhatan dia. Dia seorang dosen, berpendidikan tinggi, S3 nya di peroleh di salah satu universitas terbaik negeri ini. Sedangkan aku, hanya seorang sarjana pertanian yang setelah 7 tahun kuliah, aku bekerja dengan hobi lamaku, menjadi fotografer dan kadang-kadang penulis lepas. Sempat memang beberapa tahun aku bekerja di sebuah tabloit, tapi akhirnya harus gulung tikar karena tulisan-tulisan kami dianggap terlalu mengkritik pemerintah saat itu, masih untung karena kami tidak “disekolahkan“.

Dan saat ini, untuk menghidupi keluarga, aku bekerja apa saja. Mulai dari jadi fotografer perkawinan, menulis cerpen tapi jarang mau di muat di koran (kurang berisi katanya). Pernah juga menulis novel tapi sampai kini belum pernah ada penerbit yang mau terima. Dan yang paling sering adalah menjadi penasehat pribadi kawan2 mudaku dulu, termasuk dengan yang satu ini, tapi jarang ada yang terbayar! Aku iklas saja, toh sampai sekarang, istri dan anakku masih bisa makan 3 kali sehari, walau untuk rumah, kami masih tinggal di perumahan mertua lestari!

Ya, dia seorang doktor, peneliti, usahawan dan mantan politikus yang namanya aku kira dikenal oleh kebanyakan orang yang tinggal di daerahku, tapi aku tidak akan pernah menyebut namanya di tulisan ini. Di lingkungan kampus pun, prestasi dia cukup disegani, terakhir pernah menjabat sebagai pembantu dekat di fakultas tempat dia menjadi pegawai negeri, walau belakangan ia lebih memilih jadi dosen biasa, sehingga punya waktu lebih untuk mengurus bisnis yang sedang ia bangun sendiri.

Well, sedikit perbedaan background tentang dia dan aku sudah jelas, kini saatnya aku cerita tentang keluarganya. Mungkin pembaca ada yang bisa berpendapat, apakah jalan yang ia ambil sudah sesuai, layak, masih harus di pertimbangkan, atau harus ambil jalan lain yang mungkin bisa lebih baik?!!

Begini ceritanya: pada awal awal mereka menikah, semuanya tampak mesra. Walau pendapatan mereka saat itu sama seperti pendapatanku saat ini, cukup pas-pasan, tapi menurutku tak ada masalah yang berarti. Mungkin hanya masalah finansial, seperti saat anaknya lahir, dia harus mutar kesana kemari, mencari pinjaman uang untuk biaya persalinan, yang ujung2nya sebuah kamera analog milikku harus kurelakan, “untuk nolong kawan“, begitu saat itu aku berasalan.

Namun, setelah mereka sukses, keajaiban pun mulai menghinggapi keluarga mereka, khususnya istrinya. Ya, setelah mereka sanggup membuat rumah sendiri, punya mobil dan karir yang bagus, kelakuan instrinya berubah total, jika dulu ia adalah istri yang baik, menunggu suami di rumah sambil menjaga anak-anak mereka yang masih kecil, kini malah sebaliknya (nauzubillah). Istrinya tak lebih dari seorang tante tante girang korban iklan di tivi. Hoby ikut arisan, sebentar-bentar belanja keluar negeri (walau cuma sampe kuala leuhob, kan LN juga :D), dan yang paling parah menurutku, tidak pernah lagi berprilaku seperti layaknya seorang istri.

Ya, awalnya ia hanya minta seorang pembantu, biar kerjaannya sedikit ringan, kawanku menyanggupi. Tapi kini mereka punya 4 pembatu, dan dia tidak pernah masak lagi. Dari pagi hanya bangun, mandi, nonton gosip di TV, selajutnya ke pusat belanjaan dan ketemu kawan tante girang lainnya. ah…malas kutulis semua.

“Dia sudah jarang peduli sama anak2 kami, anak2 mau sekolah atau tidak itu bukan urusan dia, tapi urusan anak sendiri. karena menurutnya anak punya kebebasan untuk menentukan jalan hidup sendiri, curhat kawanku tentang istrinya suatu hari. “Dan yang paling parah, aku sudah jarang melihatnya salat, apalagi mengaji, walau kau tahu, alasan pertama aku menjadikan dia sebagai istri adalah karena dia seorang qariah“ sambung kawanku. Aku hanya menarik nafas dalam saat itu, tidak banyak yang bisa kusarankan, toh aku bukan psikolog, yang tau pasti saran apa yang cocok untuk orang2 seperti ini!

Pernah aku bekata begini “dari pada rumah tanggamu makin hancur, kau ceraikan saja dia”, komentarku yang rada sadies justru di sambut senyum manis tapi basinya. “Itu tidak akan kulakukan, walau sejelek apapun, dia adalah istriku, anak2 juga tahu, bahkan mereka iklas kalau ibu mereka kuceraikan dan kucarikan istri baru“ jawab kawanku. “lagian mereka juga sering marah dengan kelakuan ibunya, tapi aku sering menasehati, sejelek apapun ummi mu, itu tetaplah orang yang melahirkanmu. Karena kamu sudah besar sekarang, maka tugasmu lah menjaga baik2 ummi mu“, nasehat kawanku ke anak2nya.

Sekali lagi aku hanya menatap langit biru yang ditutup awak berjalan santai diatas kepalaku. Jangankan untuk memberi saran, untuk ngomong aja aku susah ketika dia curhat masalah begini.

Awalnya aku pikir dia itu tipe suami takut istri, karena memang aku penah melihat langsung ketika ia harus “berdiskusi” dengan istrinya, dia hanya manggut2 saja, diam dan mendengar saja ceramah istrinya, tanpa ada serangan balik sedikitpun. Dan ketika dia hendak menasehati, istrinya berang, banting pintu dang langsung pergi, pakai merci.

“Apa kamu termasuk suami takut istri?“ tanyaku iseng sekali lagi,“gak lah, bukan takut, tapi aku saja tak tahu dan tak sadar, kenapa dia sudah sangat berubah dari dulu, mungkin salahku, sibuk di kampus dan sering telat pulang ke rumah sehingga dia merasa di abaikan“ jawab kawanku. “Enggak lah, kamu kan kerja, dari dulu kan kamu pulang sore, kan itu emang jam kerja“, komentarku singkat. “Iya si, emang dia berubah total dalam bebeberapa tahun ini, sejak kami pindah ke rumah baru dan dia kenal dengan tetangga yang ada di kawasan itu”, jawab kawanku berkesimpulan. “Iya sih, itu kan kawasan elit, kawasan borjuis…hehe“ komentarku mencoba menbuat suasana lebih dingin.

“Iya, aku sadar, tapi bagaimanapun juga, kesalahan tidak cuma dengan istriku, bisa saja itu salahku kan? Kenapa kami pindah kesitu?, dan satu hal lagi, sejelek apapun istriku, dia tetap istriku, kalaupun dia sekarang berbuat banyak salah, itu tak lebih dari kesalahanku saat aku memilih dia menjadi istriku”, tutup kawanku.

“Tapi jangan kau tulis semua itu”, pintanya sekali lagi lagi..hehe. Kini giliranku yang senyum basi, dari tadi tanganku sudah gatal dan mulai meraba laptop di ransel yang ada di atas kursi😀,

Möersälin
köln, 170911

17 thoughts on ““Suami Takut Istri”

  1. cukup bagus, sya pikir kesalahan tdk 100% pada istri tp juga suami ikut bersalah, kenapa istri bisa seperti itu, apa krn terlalu dimanja. tanpa ada kendali dr suami, bisa jg kurang perhatian dr suami, shg mencari perhatian dg cara spt itu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s