Hey Dara Jakarta, Mau mu apa?

Kali ini hanya tulisan ringan yang telah lama tersimpan di Hape jadulku, saat2 masih mencoba mengenal ibukota, hampir setahun lalu!

Selamat membaca!

„kata mereka, ibu kota lebih kejam dari ibu tiri! Kataku, ibukota lebih seksi dari pacarku sendiri!
„kata mereka, di Jakarta semua bisa di beli!, kataku, di Jakarta aku hampir lupa hargaku sendiri!😀

Hmm….Ini adalah minggu pertama aku di Ibukota, si perempuan tua yang sebelumnya hanya aku kenal lewat TV. Tapi mulai minggu ini aku akan tinggal di punggungnya, untuk berapa saat, saat yang aku belum bisa pastikan.

Dan jujur saja, aku masih belum berkenalan banyak dengan si Ibu(kota), sehingga hal sekecil apapun selalu menarik perhatianku, dan beruntung aku punya kawan2 yang sudah berkencan lama dengan dia, sudah tinggal lama disana.

Dan di siang yang sedang cerah merekah itu, kami sedang duduk di kursi putar sebuah minimarket di sekitaran Menteng. Didepan kami adalah jendela kaca yang melaluinya aku bisa melihat ke sekelilingku seluas 180 derajat. Tepat di depan jendela, kurang 1 meter didepanku, duduk 4 anak berbaju putih dan rok abu abu, sebatang rokok nyangkut di masing2 jari tangan kiri mereka yang lentik. Disaku baju yang mereka pakai, sebuah sablon lambang osis dan tulisan sekolah menengah atas terpampang jelas.

Penasaran, aku bertanya ke kawan2 di disampingku yang sedang rakus menyantap hotdog, mereka2 yang sudah lama bergaul dengan Jakarta.

ini jam sekolah bukan’?
‘iya si’

‘trus kenapa mereka gk masuk?’
‘biasanya udah dari pagi gak masuk’

kenapa gak masuk?’
“namanya aja anak SMA bang”…jawabnya santai…
‘waktu saya sma, bisa cabut itu sesuatu yang keren…sesuatu yg cool”, sabungya lagi

kenapa cool?
“Soalnya dia bisa melanggar peraturan”!

Jadi bisa melanggar peraturan itu cool??
Iya,..buat mereka, ‘peraturan sekolah, peraturan orang tua…kalo di langgar itu hebat..hebat di kalangan mereka.’pasti malamnya DUGEM. Sambung kawan yang lain.
“Alasan dari rumah belajar, pake baju rapi. Sampei mobil ganti baju seksi…dan dugem deh….!!!”

Hmmm
separah itukah bangsaku? Bisakah bangsa ini kita titipkan kepada mereka? Sebuah bisikan lewat di telingaku, bukan sedang halusinasi, tapi mencoba berpikir sedikt bijak, hehe.

Pernahkah mereka pikir mau jadi apa mereka nantinya?, Pertanyaan yang tiba2 keluar dari bibirku yang gak seksi kayak Anjelina Juli*!
“Yang pasti mereka anak orang kaya, jadi gk usah mikir bang!, Pasti salah satu dari mereka bawa mobil”, jawab yang lain!

Kira2 berapa banyak si yang beginian?
“Banyak! seberapa banyak? “Pokoknya banyak, terutama SMA yg gaul2, kayak SMA 6XX, SMA 7XX , trus 8XX, SMA 3XX,!”(XXX maksudnya edited, biar saya gak di protes…hehe)

“Kalo disini, kita gak bisa negur bang, Masing2 urus diri sendiri”.

Kalo polisi ngeliat?
“Paling di biarin aja…!”

Keine ahhung!

Itu sekolahnya terganggu gak sih?
“Pastilah, ini paling kelas 1, atau kelas 2, orang tuanya juga gak tau!”
“Oia, satu lagi, mereka ini pasti satu genk!”, kata kawanku satunya lagi memastikan!

setelah hampir 20 menit aku perhatikan, mereka mulai beranjak, mengambil satu persatu barang yang mereka punya, dimasukkan ke dalam tas sekolah, yang menurutku justru lebih mirip tas belanja.

Kemana ni mereka? Tanyaku kembali
“Pasti ke mall!”

Ngapain ke mall?
“Gak tau, mejeng2 aja!”

Mereka melangkah, menjauh dari tempat dimana kami duduk, menuju ke sepeda motor yang di parkir diujung jalan sana.

Lha kok gak pake mobil?
“Berarti ni bukan anak kaya” hehe,

“Tengok aja bentar lagi bang, pasti ngangkang, padahal pake rok pendek!”, dan bener saja, setelah semuannya naik kemotor, mereka duduk ngakang, biar nampak seksi?.

Beberapa lembar rupiah berpindah tangan dari mereka ke tukang parkir yang muda dan rambut tersisir rapi tapi bajunya kayaknya udah lama gak di ganti. Dan selanjutnya merek menghilang di kemacetan jalanan ibukota, meninggalkan kami di balik jendela kaca, tanpa melihat sama sekali, apalagi berpikir seperti aku berpikir tentang mereka!

Makanan di meja kami kini hanya meninggalkan bekas di lembaran kertas, berpindah posisi ke perut kami yang sedari tadi berbunyi, minta diisi. Dan saat kami beranjak, aku masih berpikir, berbagai pertanyaan aneh berteriak di kepalaku, sebagian kutanyakan lagi ke kawan2, sebagain lagi kubiarkan begitu saja. Aku gak mau gila karena memang pertanyaan2 itu tak akan pernah ada jawabannya. Kalaupun ada, itu hanya mekanisme pertahanan ego untuk membenarkan ketidakbenaran yang ada. Toh ujung2nya tetap nihil.

Dan, jika anda mau membantuku, coba aja anda pikir, apa sih maunya para dara itu? Atau kalau berani, tanyakan saja ke mereka! Kemudian beritahu aku!

Jakarta, sekitaran bulan Oktober 2010!
Moersalin

Makasih buat sayed en kiki untuk jawaban2 dari pertanyaa2n yang sebenarnya gak pernah aku pahami😀

*) Juli : nama daerah di Bireun, Aceh

7 thoughts on “Hey Dara Jakarta, Mau mu apa?

  1. Mungkin suatu kali siswaku akan aku suruh baca cerita ini, tp aku yakin mereka tdk akan berubah ekspresi wajahnya, coz bagi mereka anak2 seperti itu adalah sampah masyarakat (maaf…..) karena siswa2ku hanya tau apa yang harus mereka kejar dan kerjakan. Makanya bnyak orang2 Ibukota yg mengirim anak2 mereka utk sekolah di sekolah kami. Anda sebagai anak muda di jaman modern tentu tau SMAN 3 Malang seperti apa, kalo belum tau…. ya cari tau ………? Tapi aku tetap salut pada anda yg tulisannya bagus2 ……….. tulis lagi yaaaaaaa……..

    • yakin bu? hehe….untuk ibu ketahui, contoh2 yang di kasi kawan saya juga sma2 favorit di jkt,😀, gurunya gk tau malah mereka berprilaku spt itu, sama spt ibu…hehe

  2. mungkin ada jg yg seperti itu diantara 900 siswa yg ada (diluar sepengetahuan kami…..) tp jk dibandingkan dg prestasi mereka sampe sekarang, hal seperti itu jd tidak ada artinya bagi kami ….. dan bagi siapapun warga sma3…….. Bhawikarsu always Prima ….. he he he…. (aku dan anak2ku kan jg alumni sma3?) jd wajib dong kalo aku bela sekolah kami sampe titik darah penghabisan…….

  3. ya begitulah kota Jakarta, balance antara yang taat dengan yang gak…

    Yang mereka mau ya kesenangan sesaat, mereka sudah terbiasa mendapatkan apa yang mereka mau, giliran dah gak punya apa-apa lagi bukannya berhenti, malah terkadang melakukan yang lebih parah, jika hilang nikmat ragawi baru deh mereka berhenti total.

    Maklum saya bukan di kota Jakarta, jadi kurang begitu tahu kehidupan disana, sekilas saya lewat saja dech coment na😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s