Uang dan Keikhlasan untuk Bahagia

Kadang kita terlalu sayang dengan uang, cinta yang berlebihan, seperti orang baru pacaran, yang pacarnya lebih ia sayangi darii pada tubuhnya sendiri.
Uang, mungkin hanya beberapa lembaran kertas yang sama dengan dengan kertas lainnya. Terbuat dari serat kayu dan selanjutnya diberi warna dan harga.
Uang, mungkin hanya beberapa lembar koin dibuat dari besi campuran yang selanjutnya di beri lambang dan harga.
Tapi, ketika ketamakan akan uang menghampiri hidup kita, sering kita merelakan nyawa, hanya demi beberapa lembar kertas yang sebenarnya tak bernyawa.


Di depan kiosk
Aku begitu bingung ketika mau memutuskan, haruskah aku membeli majalah ini? Dari judul yang tertulis di halaman depan, jelas jiwa ini sangat ingin untuk membacanya. Namun ketika ku rogoh kantong jeans biru tua yang kupakai, hanya dering beberapa biji sen yang terdengar. Sekali lagi pikiranku berantam dahsyat dengan keinginan, keinginan dan kebutuhan. Ya, bagiku informasi adalah ilmu, dan ilmu adalah kebutuhan hidup. Tapi, haruskan lebaran terakhir 10 euro di dalam dompet ku pecah hanya untuk beberapa lembaran kertas yang di sebut majalah ini?
Ketika hatiku terus begelut, aku teringat dengan sebuah nasehat, bahwa sesungguhnya yang kita cari adalah kebahagiaan, bukan uang, ata yang sebangsanya. Jika kita cukup bahagia dengan membuang uang, maka buanglah uang itu, karena memang uang tak pernah bisa membeli kebahagiaan.
Kali ini, tanganku bergerak ke kantong celana di belakangku, merogoh satu satunya lembaran kertas yang di sebuat uang yang ada didalam dompet lusuh itu. Kuserahkan kepada si penjual dan menerima kembaliannya. Beberapa keping logam, dan tak pernah ku hitung jumlahnya…aku percaya dia tak akan salah balik, kalaukpun kurang, aku sudah rela, dan kalau kelebihan, aku lebih rela.
Setelah itu, aku melangkah gontai, kembali ke spoor kereta, membawa sebuah majalah yang kubeli dengan penuh perjuangan, perkelahian batin antara keinginan, kebutuhan dan keiklasan.

Beberapa menit sebelumnya!
Aku baru saja keluar dari sebuah diskounter atau toko murah meriah yang ada di dekat stasiun itu. Saat di pintu diskounter, aku masih bisa melihat kereta itu baru saja berhenti, dan aku sempat berpikir untuk berlari dan mengejarnya, tapi itu pasti tak terkejar. Walaupun dekat, tapi aku harus memutar dulu, dari jalan depan toko, aku haru lewat terowongan bawah stasiun dan selanjutnya naik lagi ke spoor tempat kereta berhenti. Ya, stasiun kereta disini tidak sama dengan yang di negeriku, Dimana orang bisa dengan seenaknya jalan di atas rel. Disini, stasiun di desain sedemikian rupa sehingga orang tidak bisa jalan diatas rel yang ada di stasiun, sehingga, kalau mau keluar stasiun atau mau pindah dari satu spoor ke spoor lain, harus turun dulu dari lorong bawah (yang aku gk tau kata2 tepatnya).

Kantong belanjaan yang berisi beras thailand, beberapa buah ayam dan sayuran bisa kubawa dengan enteng, belanjaan lainnya udah aku masukkan kedalam ransel yang kini bergantung dibahuku. Sebuah harian berbahasa lokal masih saja di tanganku, koran yang kupungut di kereta tadi!

Dari stasiun ke kiosk
Papan pengumuman di stasiun itu menunjukkan kalau kereta selanjutnya baru akan lewat 20 menit lagi. Jadi, daripada menahan hawa dingin diatas sana, mending aku turun ke bawah, ke terowongan bawah stasiun dimana biasanya ada kiosk atau kedai2 kecil semisalnya. Selain itu, hawa dalam terowongan ini terasa lebih hangat karena terlindung dari tiupan angin dan dinginnya sore!
Aku menuruni tangga dan melangkah pelan, menuju ke sebuah kiosk yang ada di sudut terowongan itu. Hanya ada seorang penjual disana. Didalam kiosk kulihat hanya di jual makanan ringan, coklat, roti, minuman dalam botol dan rokok tentunya, sama seperti kios2 yang ada di kampungku, hanya lebih kecil dan lebih rapi, dan pembeli tidak bisa masuk ke dalamnya, cuma bisa mesan lewat jendela kecil yang ada di depannya, mirip tempat beli karcis KRL Jakarta-bogor di stasiun gondangdia. Depannya dipajang banyak koran dan majalah, dan ini aku bisa melihat sampulnya satu persatu.

Setelah observasi secara mendalam kulit majalah dan judul2 koran disana, hanya satu sampul yang menarik penglihatanku. Ya, majalah ini sudah ada di negaraku dengan edisi dalam bahasaku dan aku sering membelinya, walau bukan langganan tetap. Aku coba mengambil dan membolak balik isinya…cukup menarik, dan beberapa artikel, walau dalam bahasa yang tak sepenuhnya aku mengerti, membuatku semakin penasaran, namun saat kulihat harga di sampulnya, 3.70 euro, rasa tak iklas untuk melepas uang sebanyak itu tiba2 menghampiriku, masa aku harus membayar 40 ribu lebih hanya itu majalah kecil ini? Masa aku harus mengeluarkan uang hanya untuk beberapa tulisan diatas kertas warna warni itu?

Dari kiosk kembali ke stasiun
Aku menaiki tangga itu menuju ke spoor, dimana kereta selanjutkan akan membawaku pulang. Di dekat palang pengumuman, ada beberapa kursi dan semuanya kosong, segera saja kurapatkan pantatku ke kursi yang paling tengah, sedangkan barang bawaanku kuletakkan di sebelahnya.
Baru saja kubuka lembaran2 majalah yang kubeli tadi, sebuah kereta berhenti di depanku, aku coba memastikan, apakah ini kereta yang kutunggu? Rupanya bukan. Tepat di depan tempat dudukku, didalam kereta, ada seorang gadis berjilbab, cukup manis, tapi dia tidak melihatku, walaupun aku sedang (sekilas) menatapnya. Awalnya aku pikir orang indonesia, tapi saat menoleh, aku tersadar, hidungya terlalu mancung untuk ukuran orang Indonesia, orang turki rupanya. Hehe…kupalingkan saja mataku ke bacaan yang ada di majalah tadi, dan melupakan si cewek di dalam kereta, karena dia memang telah hilang dari hadapanku, di bawa kereta entah kemana….ke essen kayaknya.
Tanganku terasa kaku ketika jari2ku mecoba membalikkan halaman demi halaman yang ada di majalah itu, tidak semuanya kubaca, hanya melihat sekilas gambar dan judul2nya. Namun jika ada tulisan yang pendek, atau tulisan yang lucu2, segara saja sekilas kubaca, selanjutnya ku buka halaman lainnya. Dan aku cukup puas dengan tulisan2 yang ada didalamnya.

Kurang dari 5 menit kemudian, sebuah kereta lain berdiri tepat di depanku, dan kali ini aku yakin bahwa kereta inilah yang aku tunggu. Segera saja kubereskan barang belanjaanku, bangun dari kursi yang tadinya dingin tapi kini sudah menghangat karena menyerap panas dari tubuhku, dan melangkah tegap masuk kedalam kereta merah itu. sambil tersenyum, dan aku telah melupakan pergolakan batin saat akan membeli majalah tadi, kerana lembaran uang yang keberikan ke pemilik kios telah berganti dengan kesenangan yang kuperoleh setelah membaca sebagian dari majalah itu.

Dan, apakah aku telah membeli kebahagiaan atau kesenangan? Tidak juga, aku hanya mengubahnya dari satu bentuk ke bentuk lainnya. Sama seperti hukum kekekalan energi kali ya? Tapi, uang kan tidak kekal? Nah lho??????

Moersalin
Köln 8811

6 thoughts on “Uang dan Keikhlasan untuk Bahagia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s