Trip to Bonn, Part 2 (Ibukota Tanpa Kehidupan Malam)

Jam 11 kurang beberapa menit, kami sudah berdiri di spoor 6, menunggu kereta arah Bonn. Alunan lagu beautiful disaster-nya 311 membuat saya geleng geleng kepala sendiri, sambil melihat hasil foto yang baru saja kuambil di kamera. Beberapa hasil foto yang kurang memuaskan langsung saja kuhapus, supaya memory tidak cepat penuh.

Beberapa saat kemudian, kami sudah berada dalam kereta. Tidak susah menemukan kursi disana, kerena kereta di pagi itu reletif sepi. Aku memilih duduk sendirian di dekat jendela, berharap ada pemandangan bagus
yang nantinya dapat saya foto.

Disepanjang jalan, saya melihat beberapa pabrik, pedesaan yang jaraknya lumayan jauh dari rel kereta dan kadang-kadang hamparan padang rumput yang mirip sawah namun tidak di tanami apa2 (atau mungkin baru panen?), selebihnya kami melewati beberapa hutan lindung yang sangat lebat, hampir mirip hutan di jalan seulimum – lamteuba.

Sambil asik menikmati pemandangan, tiba2 ada sepasang pengamen mendekat, si cowok memainkan alat musik yang tak pernah kutahu namanya, sedangkan si cewek berjalan keliling meminta para penumpang memberikan ala kadarnya. Saya heran, kenapa bisa ada pengamen di kereta ini ya? Gaya mereka mirip pengamen yang ada di bis2 kota jakarta, namun sedikit lebih rapi. Cowoknya agak kurus sedangkan sei cewek lebih pendek dan sedang hamil tua. Dari wajah dan cara mereka berbicara, saya yakin kalau mereka bukan orang jerman, tapi pendatang (gelap?) dari spanyol atau negara latin lainnya.

Dan ketika si cewek mendekat untuk meminta uang, langsung saja saya pasang jurus yang biasa saya pakai untuk menghindari pengamen di jakarta, pura2 gak dengar dan jangan pernah menoleh ke mereka. Headset yang ada ditelinga saya cukup membantu, karena memang si cewek menduga saya sedang asik mendengar lagu sendiri. dan memang saat itu saya sedang mendengar musik berat „wilkommen“ nya rosentstolz.

Karena saya cuekin, si cewek hanya berlalu di samping saya. Sekilas kemudian kulihat dia berkumpul lagi dengan pasangannya. Dan beberapa saat kemudian keretapun melambat terus berhenti dan mereka turun di halte tersebut.

Beberapa saat kemudian, keretapun kembali berjalan cepat. Dari informasi pengeras suara dan layar informasi yang ada di atas kereta tersebut, dikatakan bahwa pemberhentian selanjutnya adalah di halte Bonn Hbf atau halte utama kota Bonn. Saya makin penasaran, bagaimana bentuk stasiunnya, seberapa besar dan kotanya sendiri bagaimana. Betapa tidak, karena memang bonn dulunya adalah ibukota dari jerman barat, dan sebagaimana ibukota biasanya, kotanya besar dan penduduknya ramai.

Hanya beberapa menit kemudian, sampailah kami di stasiun utma kota Bonn atau Bonn Haupbahnhoff. Jujur saja, saya seperti tidak percaya bahwa itu stasiunnya kota Bonn, karena sangat kecil untuk sebuah stasiun „mantan“ ibu kota. hanya ada 6 jalur disana, kalau saya boleh bandingkan, hanya sebesar stasiun bogor, namun lebih sepi, dan tanpa toko2 atau penjual keliling di sekitarnya.

Kami tidak turun distasiun ini, tapi terus lanjut sampai kestasiun berikutnya, „Bonn-Bad Godesberg“ begitulah tulisan nama stasiun yang tertulis disitu. Kami berhenti sebentar, karena stefan sedang memberikan penjelasan kepada peserta tour tentang detil rencana perjalanan selanjutnya. Katanya pertama kami akan menuju ke toko makanan anak2 „haribo“ dan setelah itu baru ke pusat kota, dari stasiun katanya. Kami bisa jalan kaki sekitar 10-15 menit ke toko ini. Jujur saya belum pernah mendengar nama toko ini dan kenapa kami di ajak kemari, apa sih istimewanya?

Kami berjalan melewati jalan2 sempit. Sepanjang jalan Stephan mencoba menjelaskan tentang kota Bonn, mulai dari sejarah, tempat2 terkenal dan sebagainya. Saya tidak seluruhnya menyimak, karena memang tujuan kedatangannya emang bukan untuk dengar ceramah tour-guide, tapi untuk foto2, kalau mengenai kota bonn, kan bisa baca di internet.

Sedikit Tentang Kota Bonn.
Bonn merupakan kota di jerman yang terletah di negara bagian (Bundesstadt) NRW atau North Rhine-Wesphalia dan berjarak sekitar 25 KM dari Köln. Kota yang berpenduduk sekitar 325 ribu jiwa dengan luas skitar 141.22 km2 saat ini dikepalai oleh Jürgen Nimptsch. Sebelum „wiedervereinigung“ atau persatuan kembali jerman barat dan jerman timur, Bonn merupakan ibukota dari jerman Barat. Nah, walau saat itu Bonn berstatus sebagai ibukota, namun sebenarnya Bonn merupakan sebuah ibukota yang dipilih ataudi tunjuk untuk menjadi ibukota, tetapi ibukota yang terjadi dengan sendirinya. Menurut cerita lehrer di CDC yang asli orang Bonn, pada awal2 setelah perang dunia II, banyak politikus jerman berkumpul dan membuat rapat untuk menentukan arah bangsa jerman, dan kebanyakan pertemuan2 ini dilakukan di Bonn, sehingga dengan sendirinya Bonn menjadi ibukota.

Karena ukurannya yang sangat kecil, dan jumlah penduduk yang tak seberapa banyak, saat itu ada yang iseng menyebutkan Bonn sebagai kependekan dari Bundeshauptstadt ohne nennenswertes Nachtleben atau Ibukota Negara Federal tanpa kehidupan Malam. Selain itu, sejak tahun 1998, banyak kantor-kantor pemerintahan dan kantor perwakilan internasional dipindahkan dari Bonn ke Berlin, yang membuat Bonn semakin sepi, namun menurut seorang kawan, justru untuk menikmati hidup yang sepi atau im Ruhe leben, dan untuk yang sudah berkeluarga, Bonn justru merupakan tempat pilihan.

Kembali ke tour!
Setelah melewati beberap jalan, tibalah kami di HARIBO, hmmmm….dari luar sebenarnya tidak ada yang spesial, hanya ada satu tulisan di dindingnya „Haribo, macht Kinder froch“, relatif mirip dengan toko2 lain di jerman, namun setelah masuk kedalam, rupanya sangat rame, dan yang dijual hanya makanan anak2 dengan hanya satu merek, HARIBO. Saya melangkah diantara rak rak tempat makanan di jajakan, ada berbagai jenis makanan kecil disana, harganya juga variatif, mulai dari beberapa euro sen hingga beberapa euro. Selain makanan juga di di jual oleh2 seperti muk kecil, piring, tas hingga baju dengan tulisan yang sama, HARIBO. Tidak saya jumpai sales girl disana, yang ada hanya beberapa kasir yang sibuk melayani orang yang akan membayar. Tepat di depan kasir ada tempat bermain untuk anak2, mirip seperti yang ada di playgroup. Disitu juga terdapat beberapa „surat berharga“ seperti award dari Guiness word record, dan sebuah surat dari Arnold Schwarzenegger, action film laga terkenal itu.

Karena masih bulan puasa, saya tidak tertarik untuk membeli, tapi karena tidak enak keluar tangan kosong, saya comot aja 2 bungkus makanan yang harganya paling murah, masing-masing 0.50 euro sen. Sedang kawan2 lain saya liat sedang “borong”, bahkan ada yang udah setengah kaufwagen. Ada juga yang beli baju, dan lansung di pakai disitu, dan kebanyakan harus beli tas untuk tempat makanan yang baru saja di beli.

Diluar haribo saya kembali dengan kamera, ganti lensa tele dan mencoba menjepret para pengunjung, terutama anak2. Dan tiba2 ada seorang dari rombongan menawarkan saya makanan yang dia beli tadi didalam, “maaf, saya sedang puasa”, kata saya, diapun minta maaf dan bergabung dengan kerumunan lain. Selang beberapa menit, ada kawan lagi yang nawarin saya makanan, dan dengan cara yang sama saya harus menolak karena memang sedang puasa.

Setelah semua peserta tour berkumpul, kami kembali bergerak, tujuan selanjutnya adalah ke pusat kota dan universitas. Dari situ kami jalan kaki mencari stasiun U Bahn terdekat. Di dalam Bahn, walau kursinya banyak yang kosong, saya memilih untuk tidak duduk, dengan begini masih bisa motret beberapa objek yang diliwati melalui jendela Bahn.

Tanpa disadari kami telah tiba di halte tujuan „Universität-Markt“, perserta keluar dari Bahn dan menuju ke arah stasiun sentral, kami berhenti di depan gedung deutsche Bank, dan selanjutnya stefan angkat bicara. Katanya sekarang waktunya bebas, kami bisa pergi kemana saja, makan, jalan2, belanja atau suka2 peserta, dan berkumpul kembali di tempat yang sama satu jam kemudian. Dan inilah kesempatan yang saya tunggu2.

Ketika peserta yang lain memilih ke arah tempat pembelanjaan dan makanan, saya justru mengambil arah berlawanan, ke jalanan sepi yang saya gk tau namanya…jalan memutar, mencoba memotret apa saja yang ada, kebun yang sepi, rel kereta api tanpa kereta, tong sampah warna warni, bangunan tua yang tetap terjaga bentuk aslinya, botol bir yang ditinggal begitu saya di jalanan, bahkan jalanan sepi yang hanya berisi mobil2 yang sedang di parkir. Benar2 kota kecil yang sepi rupanya, begitu pikir saya.

Asik memotret, saya justru sudah berada kembali di stasiun bus, dari situ jalan lagi, melewati toko2 makanan yang baunya menyangat, dan memancing perutku beberapa kali untuk berbunyi, hehe. Disana saya temukan patung Beethoven, saya ambil foto beberapa kali, tapi foto dari dekat agak susah dan tidak smua foto terambil, karena lensa wide nya udah saya ganti dengan lensa tele saat motret2 di depan haribo tadi.

Lagi asik2 motret, tiba2 saja hujan turun, dan orang2 pada lari ke bawak kanopi bangunan yang ada di sekitar, supaya tidak basah tentunya. Saya sendiri sibuk menyelamatkan kamera agar tidak basah, karena memang gk punya payung dan jaket yang tahan air.

Sambil berdiri menunggu hejan reda, saya lihat ada „obdachlosser“ atau pengemis sedang mengais2 toh sampah, mencari sisa2 makanan yang di buang orang kesitu. Sekali lagi saya kaget dengan kenyataan ini. Tidak hanya saya, yang dilakukan perempuan paruh baya itu menjadi perhatian orang2 yang berdiri di sekitar saya, walau tidak tahu persis bagaimana persepsi mereka, namun dari raut wajah , ada nampak rasa iba dengan nasib yang dialami oleh perempuan tersebut.

Setelah hujan reda, kami bergerak ke meseum Beethoven. Banyak sebenarnya cerita yang bisa saya tulis dari meseum ini, namun dasarnya saya bukan penyuka meseum, berita yang layaknya ditulis hanya berlalu saja di telingan saya. Dan yang pasti, saya sudah melihat langsung kamar kecil tempat komposer tuli ini dilahirkan dan dibesarkan, namun karena „kamera dilarang masuk“, saya juga gk berminat untuk bercerita. Maaf ya😀

Jam 6 sore, kami kembali bergerak ke stasiun utama kota Bonn…pulang kembali ke Köln, kota singgahan semetara, kota gembok dengan Dom megahnya yang kapan2 akan saya tulis disini!

Moersalin
Köln

4 thoughts on “Trip to Bonn, Part 2 (Ibukota Tanpa Kehidupan Malam)

  1. saya mengira kota bonn itu akan sangat rame, ternyata setelah membaca dari cerita ini tidak sesuai dengan bayangan yang ada di benak saya sebagai mantan ibukota yang kira-kira mirip kota Yogyakarta lah gitu dech

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s