Trip to Bonn, Part 1

Sabtu kemarin, saya ikut rombongan CDC ke Bonn. walau masih puasa, rasa gatal ditangan untuk motret udah tak tertahankan, dan kebetulan dalam trip kali ini, harganya relative murah, sehingga walau cuaca kurang mendukung untuk shoot, saya memutuskan untuk ikut.

Jam 9 pagi, di kos2an, saya ngecek prakiraan cuaca lewat internet, katanya cuaca hari ini bakalan tidak menentu, paginya berawan sedangkan siangnya terik dan ada mataraharinya, namun hujan bisa datang kapan saja, tanpa di undang…hehe, yang pasti suhu di pagi itu hanya 14 °c. Dan bagaimanapun cuacanya, saya memutuskan untuk tetap ikut, batre camerapun udah saya cas hingga penuh, siap digunakan.

Sambil denger “mit verbundenen augen nya Juli” saya berkemas, pakai kaos biasa dan jaket tipis, dengan harapan suhu di luar sana tak terlalu dingin.

Beberapa menit kemudian saya sudah lengkap dengan sepatu, pasang headset ditelinga dan melenggang ke stasiun kereta Delbrück. Dari kos-kosan ke stasiun ini harus jalan kaki sekitar 15-20 menit. Lagu trauble is a friendnya lenka dan beberapa lagu lainnya menemani saya jalan kaki hingga sampai ke stasiun.
Jam 9.23 saya tiba di stasiun, berarti harus nunggu sekitar 5 menit lagi hingga kereta S11 arah Dusseldorf Flughafen tiba dan membawa saya ke pusat kota köln.

Saya berdiri di sudut bangunan yang ada di terminal, mencoba bersembunyi dari dinginnya angin pagi yang kadang2 bertiup. bener deh, jaket yang saya pakai hari itu belum cukup kuat melawan dinginnya tiupan angin desa dellbruck. Mungkin saya saltum alias salah kostum, tapi untuk pulang dan pakai baju selapis lagi kayaknya gak mungkin, karena kereta sebentar lagi akan tiba. Dan benar, kurang dari 5 menit, kereta listrik warna merah itu berdiri tepat di depan saya, tanpa harus saya stop seperti bus merah di jalanan jakarta (metro mini maksudnya…hehe)

Enaknya sistem transportasi di jerman adalah prinsip „pucklich sein“ alias selalu tepat waktu bener2 dilakukan. Selama kita tiba tepat waktu (beberapa menit sebelum jam keberangkatan), kita gak perlu kwatir terlambat. Ini tidak hanya berlaku untuk S-Bahn atau U-Bahn, tetapi juga bus kota dan offenliche verkehsmittel lainnya. Beda jauh dengan negara kita, pesawat terbang saja bisa delay sampe 8 jam, apalagi becak. Mungkin satu2 nya alat transportasi di negara kita yang bisa di andalkan tepat waktu adalah RBT, itupun jika tak di jebak sama macet atau hujan.😀

Lagu symphonie nya silbermond tiba2 terdengar dalam headset di telingaku, membuatku teringat kembali ke beberapa bulan lalu di tanah air, ketika pertama kali mendengar lagu ini dari Frau Romuli, itulah lagu berbahasa jerman pertama yang aku kenal dan bisa aq ikuti. Sambil mendengar lagu ini, saya juga tersenyum mengingat cara beliau mengajar, efektiv dan efisien…hehe.

Beberapa saat kemudian saya telah berada di stadiun hansaring. Dari sini harus jalan kaki ke CDC dan…..memulai jurney untuk hari ini!

Jam 10 teng di CDC, rombongan sudah mulai berkumpul, dan stefan, sang tour guide sedang mengabsen satu persatu peserta yang ikut dalam tur itu. Cara absennya pun unik, tidak di panggil nama, tapi kami harus mendaftar ulang sekaligus membayar 8,5 euro untuk trip ini. Harga ini termasuk tiket PP köln-Bonn, tiket transport selama di Bonn dan tiket masuk ke meseum (kalau jadi), so saya kira cukup murah.

Sambil menunggu peserta smua daftar ulang, saya memilih untuk menjalankan aksi saya sendiri. Rasa rindu akan foto2 membuat tangan saya mengeluarkan kamera dari tasnya, dan tanpa ada yang memeritah, saya mulai beraksi, memotrek beberapa objek yang ada di dalam ruangan. Bahkan ada yang heran karena saya berulang2
memotrek tong sampah yang ada di ruangan tersebut, namun gk ada yang berani nanya…tanya kenapa?

Puas dalam ruangan, saya kemudian keluar, disana hanya ada gedung2 tua yang berdiri berjajar bak toko2 tua di peunayong, namun bangunan dsni lebih banyak lukisannya, sedikit lebih tinggi dan lebih terawat. Arsitektur khas eropa juga jelas nampak.

Jam 10.20 rombongan mulai bergerak jalan kaki menuju köln haupbahnhof alias stasiun utama cologne. Ketika yang lain berjalan gigih, saya malah ketinggalan, sibuk memotret sudut2 kota ini. Dan memang, walau sudah hampir sebulan saya tinggal dikota gembok ini, saya belum sekalipun memotret apapun disini, bahkan Köln Dom yang terkenal itupun belum saya potret, padahal hamoir tiap hari lewat didepannya..

Lisa, salah satu panitia tour ini tampak mulai kesal dengan prilaku saya yang sibuk motret sehingga membuat saya terpisah dari rombongan, walau tidak begitu jauh dan selalu bisa saya susul. Sambil tersenyum, saya hanya bilang “ENCULDIGUNG….” , disertai jawaban”kein problem” dan senyum sedikit terpaksanya…hehe

Sekitar jam 10 45, kami sudah berada di depan dom-Hbf, sementara stefan sibuk menjelaskan detail rencana trip, saya malah sibuk motret, dengan sekali2 mendengar apa yang sedang di jelaskannya dalam bahasa jerman tersebut. Tidak semua bahasa jermannya saya mengerti, tapi maksud dan tujuannya saya pahami.

Oia, dalam romongan trip ini kebanyakan pesertanya adalah dari cina, selain itu ada juga dari brazil, equador, jepang, bosnia, rumania, jerman, spanyol dan berbagai negara lain dunia, satu2nya dari indonesia dan paling ganteng adalah saya. Hahahaha

Kasep dilee, pajan2 ta sambong laen, nyou karap poh 2 malam en goh teunget lom, singoh rencana trip laen u berlin,
oia, selamat lebaran, maaf lahir batin

4 thoughts on “Trip to Bonn, Part 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s