Kapan Menikah?

“Aku juga masih gak tau kapan…
Belum nemu yang cocok…”

Begitulah jawaban seorang sahabat lewat jendela chatting saat aku tanya kapan ia akan kepelaminan!

Well, aku yakin, bukan hanya si sahabat saja yang menjawab seperti itu, banyak diantara kita yang masih belum menemukan kecocokan itu,”susah untuk cari yang pas, yang cocok, belum ada yang se-ide dan sebagainya”. Mungkin kata-kata lain yang sering kita pakai untuk mengalihan alasan dari sebuah pertanyaan “kapan menikah”?

Berikut adalah sebuah kisah yang mungkin bisa menjawab pernyataan “mendapatkan pasangan yang cocok” atau “mempertahankan sebuah keluarga yang sakinah”.

Selamat membaca!

6 Tahun lalu, ketika aku akan memutuskan untuk menikah, aku bak berada di sebuah persimpangan yang tak berujung, di satu sisi aku ingin melanjutkan karirku yang sedang aku bangun di sebuah NGO Internasional di kota tempatku lahir dan dibesarkan, statusku sebagai seorang perempuan lulusan luar negeri saat itu membuat karirku berjalan nyaman bak tol bandara. Disisi lain, “tuntutan lingkungan” yang terus berdengung bak halusinasi di telingaku, terus berkicau tanpa henti, “kapan ne kepelaminan?, kapan nikah? Aku udah punya anak lho…..setiap saat, hampir suara itu-itu saja yang kudengar, tidak di kantor, tidak dirumah, apalagi kalau keluarga besarku telah berkumpul, wah….aku pasti objek pembicaraan. “belum dapat yang cocok”, itulah jawaban yang sering kuberikan, walau kesal, aku sadar, itu adalah bukti perhatian mereka kepadaku. Dan aku bersyukur, gelar perawan ting ting juga belum pernah dilabelkan ke aku.

Sampai suatu hari, melalui sebuah jejaring sosial yang mulai nge trend saat itu, friendster, aku melihat sebuah nama seorang kawan SMP terpampang disana,dengan niat menyambung silaturrahmi, aku add saja ke akunku, sekaligus kirimin pesan bahwa yang minta add itu aku, kawan sekelasnya waktu SMP dulu.

Walau fotonya di jejaring tersebut wajahnya sudah sedikit berbeda, namun si kawan bukanlah orang yang mudah di lupakan. Waktu SMP dulu, hampir tidak ada orang, bahkan penjual asongan yang sering parkir di depan sekolah kami, yang tidak kenal dengan dia. Mulai dari wajahnya, cara ia berpakaian, hingga prilaku dia, cukup berbeda dengan siswa-siswa lainnya.

Punya keturunan China-India, bisa dibayangkan bagaimana bentuk wajahnya, bulat, hidung pas-pasan, bermata sipit namun berkulit hitam legam, jerawat dan komedo juga tumbuh subur di wajahnya saat itu. Jauh beda dengan kami yang umumnya berkulit kuning langsat dan masih sangat mulus untuk ukuran anak SMP. Mungkin hanya rambut ikal nya yang sedikit membuatnya “normal” diantara kami. Saya juga ingat persis kadang dulu kami memaanggilnya “Blesit” alis si Black tapi Sipit. Anehnya, mendapat panggilan seperti itu, ia hanya senyum saja.

Baju kemeja putih dan celana biru pendek yang dia pakai kesekolah juga sering kebesaran, sehingga biarpun bajunya sudah dimasukkan kedalam celana tetap saja tampak kebesaran untuk ukuran tubuhnya saat itu. “punya saudara saya yang tidak dipakai lagi” suatu kali iya memberikan jawaban.

Walau anaknya lumayan pintar, di dalam kelas dia lebih pendiam, sering aku lihat, kalau ada yang kurang jelas dengan pertanyaan dia sering memintakan kawan sebangkunya untuk bertanya ke guru, begitu juga jika ada soal matematika di papan tulis, walau dia bisa menjawabnya, dia akan menulisnya dikertas dan memberikan jawaban kepada kawan sebangkunya untuk di tulis di papantulis. Ketika di tanya guru apa dia tidak takut tidak dapat nilai karena jawabannya di berikan ke orang? Dia hanya tersenyum dan menunduk, tidak memberikan jawaban.

Dengan kami yang perempuan, dia sangat malu dan sangat susah di ajak bicara, sehingga sering kami mengganggunya, hanya sekedar mengajaknya berbicara, namun dia selalu memilih menghindar. Sikap yang “penakut” dengan perempuan ini terkenal hingga mbak-mbak yang jualan di kantin sekolahpun sering mengganggunya, walhasil dia jadi jarang ke kantin.

Seingat saya, hanya 2 orang kawan sekampungnya yang sering dia bicara, itupun dalam bahasa lokal yang tidak sepenuhn ya kumengerti. Hingga belakangan ketika kami mau lulus SMP aku tahu, bahasa indonesia yang kurang bagus dan sangat medok-lah yang membuat dia memilih untuk jadi pendiam.

Waktu SMA, kami tidak bersekolah di sekolah yang sama lagi, dia melanjutkan di MAS yang ada di kampungnya, sedangkan aku pindah ke SMA di ibukota kabupaten yang lebih terkenal dan lebih baik. Walau demikian, aku sering pulang kampung dan sering melihat dia berjualan di pasar kecamatan dihari-hari pekan. Saat kuberjumpa dan menyapanya di pasar, dia masih seperti yang dulu, tersenyum dan menunduk malu.

Lulus SMA, aku pindah lagi ke ibukota provinsi, melanjutkan kuliah di sebuah PTN yang cukup terkenal, lulus dari sana, aku lanjut lagi S2 ke sebuah negara di Eropa dengan beasiswa dari orang tuaku. Dan sejak saat itu, aku tidak mendengar kabarnya sama sekali, hingga 6 tahun yang lalu ketika aku sedang santai di kantorku dan melihat fotonya di jejaring sosial tersebut.

2 hari setelah aku add, dia meng-approve permintaanku, dan sejak saat itu, kami jadi sering meninggalkan pesan melalui jejaring tersebut. Pernah aku tanya nomor teleponnya, “maaf, saya belum punya hp” jawabnya singkat. Walau hanya bisa berkomunikasi melalui offline message, karena menurutnya dia hanya 2 hari sekali ke warnet, namun dia sudah mulai cukup responsive, tidak pemalu lagi seperti dulu. Dan tanpa di sengaja, dia menjadi kawan maya yang cukup akrab dan bisa di ajak curhat.

Melalui jejaring ini juga aku tahu bahwa selesai MAS, dia sempat nyantri setahun di pesantren yang ada di desa tetangga, kemudian baru melanjutkan kuliah di D3 keperawatan swasta di kota kabupaten tetangga “lebih murah disana, dan saya bisa kerja sambilan, jualan koran dan sebagainya, karena tidak wajib masuk asrama seperti di Akper negeri” jawabnya suatu hari beralasan.

Selesai kuliah, dia diterima bekerja sebagai perawat kontrak disebuah Rumah sakit jiwa Provinsi, sebuah tempat kerja yang menurut kawan-kawannya “bukan tempat kerja favorit” bagi praktisi kesehatan. Bayangkan kita harus mengurus orang-orang yang nama sendiri saja mereka tidak tahu. Tapi si kawan menerimanya dengan ikhlas.

Sejak saat itu, pertemanan kami semakin akrab, saban hari aku menunggu balasan pesan dia, dan dia membalas kapan saja ia punya waktu, sering juga aku telepon ke ruangan tempat ia bekerja, dan disitulah kesempatan kami untuk berdiskusi. Saat itu aku merasa, mungkin hanya dia yang cukup response ketika diajak berbicara dan cukup sabar dengan segala curhatku, “sudah terbiasa dengan pasien” suatu hari ledeknya…”emang kamu anggap aku ini pasien sakit jiwa kamu ya?” tanyaku rada kesal, dia hanya tertawa kecil dan meminta maaf, “bukan itu maksudnya, tapi ya….saya sudah menjadi lahan curhatan kawan-kawan lain selama ini…masalah keluarga mereka lah, istri mereka lah, anak merekalah, masalah dengan atasan lah….padahal aku malah belum punya istri, apalagi punya anak…tapi ya denger aja…” jawabnya.

Proses telpon-telponan berlangsung cuma beberapa bulan hingga akhirnya dia ngajak kupi darat (red – bertemu muka). Aku sempat kaget dengan ajakan ini, walau aku pikir tidak ada salahnya, toh dia juga sudah tau semua masalahku selama ini, dan dia juga kawan sekolahku dulu. Akhirnya kuiyakan dan kita berjumpa dikantin sekolah kami dulu, yang saat itu sudah berubah menjadi cafe yang cukup terkenal karena banyaknya lulusan sekolah kami yang nongrong disitu.

Ketika aku tiba disana, dia sudah duluan tiba dan sedang terduduk di sudut cafe sambil membaca koran, tidak susah memang untuk menebak yang mana orangnya walau kami sudah tidak jumpa selama bertahun-tahun. Aku mendekati ke meja tempat dia duduk, mengucapkan salam, dan dia menoleh ke arahku, sedikit kaget, dia menjawab salam dan bertanya apa itu bener aku? “iya, aku irma” jawab kusingkat. Dia tersenyum, agak kaku namun lebih santai di bandingkan dia waktu SMP dulu. Dia mempersilahkanku duduk dan bertanya mau pesan minuman apa, “air meneral aja” jawabku. Dia mengaku kaget melihatku yang sudah sangat jauh berbeda dengan aku yang dulu, “dulu kan kurus, sekarang sudah berisi” ledeknya disertai tawa kami bersama. “Tapi manisnya masih seperti yang dulu kok” lanjutnya lebih berani dan sedikit menggoda.

Kulihat dia sudah cukup berbeda, sekarang lebih berisi dan sedikit buncit, beberapa ubannya kini mulai tumbuh, wajahnya tampak makin bulat bak bulan purnama, beberapa bekas jerawat tertempel di wajahnya, matanyalebih sipit dari sebelumya, hanya warna kulitnya yang masih hitam legam bertahan hingga kini.

Selanjutnya kami saling bernostalgia, mengenang tentang kisah – kisah jahil masa lalu, yang sebenarnya lebih banyak kisah tentang kami menjahili dia, tak ada kemarahan di wajahnya. Me review kawan sekalas kami satu persatu, dengan kesimpulan, hampir 90% sudah berkeluarga dan punya anak, sisanya tidak kami ketahui.

Sejam lebih kami bernostalgia, hingga tiba-tiba dia berbicara agak serius, “ir boleh aku tanya sesuatu?” tanya nya, dan aku mengangguk penasaran, “kamu tahu sekarang kita sama-sama sendirian, jadi aku mau tanya…..mau ngak kamu jadi istri saya?” tanya dia langsung to the poin. Aku terkejut, kaget dan bingung, bener-bener bingung karena dari awal aku tidak pernah kepikiran akan berhadapan atau mendiskusikan masalah ini dengan dia. “Aku tahu kamu bingung, aku juga bingung……tapi,….ya aku cuma tanya, kalau kamu tidak mau ya gak apa apa…..” lanjutnya lagi.

Mulutku seperti terkuci dengan gembok besi, tidak bisa berkata-kata, bahkan berpikirpun aku tidak bisa, bener-bener terkejut. “aku tau, kita kayaknya jauh berbeda, kamu lulusan S2 Swedia, sedang aku cuma lulus D3, kerja di rumah sakit jiwa, tenaga kontrak lagi…” lanjutnya. Pernyataan yang terakhir ini membuatku protes, aku gak setuju kami dibanding-bandingkan dengan cara seperti ini, karena aku sadar, aku sedikit beruntung karena orang tuaku punya kemapuan lebih di segi ekonomi, sedangkan berbicara pinter, dari SMP kami semua tau dia jauh lebih pinter dari kami.

Aku menarik nafas dalam. “boleh saya pikir-pikir sebelum kasi jawaban?” tanyaku, “iya….silakan bu, saya siap menunggu…” jawabnya sambil tersenyum dan menunduk.

Setelah itu, sepertinya kami membisu, hampir tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut kami, senyap, walaupun dia sempat berbicara beberapa kalimat, sepertinya semua hilang dari ingatanku, kalaupun ada yang aku tanggapi, itupun kulupakan begitu saja, aku bener-bener bingung. seingatku, hanya satu kalimat dari mulutnya yang masih kuingat sampai kini “ir…aku tidak berani menjanjikanmu kekayaan,tapi aku akan berusaha membahagiakanmu…..semampuku….”

Selanjutnya, kami memutuskan untuk pulang, dia membayar minuman yang kami pesan, meninggalkan ruang cafe dengan tanpa kata-kata, hanya senyuman dan kebingungan, dia mengantarku sampai ke mobilku, selajutnya ku lihat dia kesusahan menghidupkan sepeda motor buntutnya….aku tertawa kecil….mungkinkan ini suamiku yang selama ini aku cari?

Intuisi alam bawah sadarku membawaku sampai ke rumah, selesai shalat, aku berdoa memohon petunjukNya. Benerkah ini suami yang akan menjadi imamku? Bisakah kami bersama? Bagaimana kalau tidak? Berbagai pertanyaan selanjutnya menghiasi kepalaku, kadang aku yakin, sering pula aku ragu. Bagaimana dengan status sosial kami yang cukup berbeda, pendidikan, pergaulan, bahkan hanya 2 orang kawan dia di tempat dia kerja yang aku kenal, selain itu aku tak tau dia sedikitpun.

Pertanyaan-pertanyaan kemungkinan juga hinggap di kepalaku.”mungkinkan aku yang lulusan luar negeri punya suami yang hanya lulusan D3? Kerja di rumah sakit jiwa lagi…bagaimana dia akan menafkahiku? Sekarang saja, gajiku jauh lebih banyak dari dia. Apakah rumah tangga kami akan bertahan? Bagaimana caranya aku memperkenalkan ke kawan-kawan kerjaku kalau ia suamiku? Apa yang harus aku jawab kalau mereka protes melihat tampangnya yang tak sepadan denganku? Kadang ketakabburan melintas di kepalaku…bagaimana dengan keluargaku? Apakah mereka akan setuju aku menikah dengan dia? Apa kira-kira ya tanggapan mereka?

Hingga tengah malam, aku masih terduduk di atas sajadah dalam kamarku, Beribu-ribu pertanyaan lain muncul dan hilang begitu saja. Ego dan super egoku saling berkelahi mencoba memberikan rasionalisasi dari setiap pertanyaan yang muncul. Hingga aku tersenyap, Tak sengaja, aku bersujud, tidak terisak, tapi air mataku mengalir begitu saja. Aku merasa tenang, dengan dua buah pertanyaan, “sebenarnya, apa bedanya aku dengan manusia yang lain? Bukannya aku juga makhluk Nya?” dan aku sadar bahwa semua yang kumiliki sekarang ini adalah titipan? Dan jika yang maha kuasa berhendah aku menjadi istrinya, pastilah Ia punya rencana untuk segalanya….ya, semua Dia yang mengatur.

Tidak berpikir panjang, aku menghidupkan laptopku, sambungkan ke kabel telepon untuk koneksi internet, membuka jejaring sosialyang biasa kami gunakan untuk berkomunikasi, dan menulis pesan untuk dia “Ya, Insya Allah aku siap jadi makmum mu, aku akan berusakan menjadi istrimu, semampuku”, jawabku singkat. Selang lima menit, dia membalas pesanku “Alhamdulillah, Ya Allah, Kutemukan kembali tulang rusukku yang Hilang” jawabnya yang membuatku tertawa geli.”ya Alhamdulillah” jawabku sekali lagi.

Selanjutnya dia minta maaf karena tidak bisa melanjutkan komunikasi kami, karena saat itu memang dia sedang dinas jaga malam dan ada pasien yang masih bingung dan bersiko mengamuk, sehingga ia harus menjanganya secara intensive.

Aku sendiri tidak bisa tertidur malam itu, mencoba melihat beberapa foto kami waktu kami SMP dulu, waktu kami sama-sama ikut pramuka, ikut gerak jalan, foto saat acara maulid dan foto terakhir saat kami perpisahan dikelas 3. Dari semua foto yang aku liat, dia hampir selalu berada di belakang dan cenderung bersembunyi, sedang aku selalau tertawa lebar dan semua berada digaris depan😀.

Selesai membolak balik kan album foto, aku kembali membuka laptop, mencoba menuliskan kisah dan perasaan yang aku alami selama ini. Berharap sebuah pelajaran dapat kupetik dari kisah-kisah yang telah kujalani.

Sebulan kemudian, kami menikah. Tidak terlalu mewah, tapi cukup membuat kerabat dan kawan-kawan ku terkejut, bener-bener di luar dugaan. Namun aku mulai yakin bahwa, langkah-rezeki-pertemuan-dan maut, adalah hak prerogratifyang di atas sana, hanya Dia lah yang tau segalanya. Kita hanya bisa merencakan, atau membuat ancang-ancang, sedangkan keputusan sudah tertulis disana.

Setelah menikah, suamiku pindah ke rumahku, walau dia mulai agak jauh ke tempat kerjanya, tapi tidak pernah kudengar nada protes dari dia, sedangkan aku masih tetap bekerja di tempat kerjaku sebelumnya. Setelah anak kami yang pertama lahir, aku meminta kantorku untuk mengurangi porsi kerjaku, dengan konsekuensi, gajiku juga di kurangi, aku terima dengan lapang dada.

Anak kami berusia 1 tahun, suamiku memutuskan untuk menlajutkan ke jenjang sarjana, walau dengan dana pas-pasan, aku tetap menyetujuinya, 2 tahun berselang, ketika aku sedang mengandung anak kedua kami, dengan program pemutihan pegawai kontrak, suamiku diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil, betapa kebahagian terus mengunjungi keluarga kami, Alhamdulillah.

Kini, setelah 6 tahun berkeluarga, suamiku adalah seorang sarjana, dia sudah menjadi PNS dan menjadi kepala ruang rawat di rumah sakit jiwa, yang berarti ia tidak harus jaga-jaga malam seperti sebelumnya. Aku sendiri lebih memilih mundur dari tempat kerjaku dan memulai bisnis sendiri yang bisa aku kerjakan dari rumah, yang juga berarti aku punya waktu yang lebih banyak dengan kedua buah hatiku.

6 tahun berkeluarga, tidak semua momen kami lewati dengan mulus, ada saja batu terjal yang menghadang dan siap untuk meretakkan rumah tangga kami, tapi kami selalu berusaha untuk menyingkirkan batu batu itu bersama. Pernah kami tidak punya uang untuk biaya operasi SC ku saat anak kedua lahir, tapi dengan kejujuran kami di berikan utang oleh rekan suamiku yang Alhamdulillah telah berhasil kami lunasi. Pernah juga aku mendapat protes dari keluarga besarku karena memillih untuk berhenti bekerja di NGO tersebut dan memilih berbisnis sendiri, namun aku sekarang berhasil membuktikan ke mereka kalau keputusanku tepat.

Berbagai masalah keluarga lain datang dan pergi dari kehidupan kami, namun kami punya sebuah prinsip bahwa “sebuah keluarga tidak hanya di bangun, tapi juga di lestarikan”. Iya, banyak orang yang berhasil membangun sebuah keluarga, tapi tidak berhasil melestarikannya. Mereka berhasil membuat keluarga mereka kaya raya, tapi berakhir dengan perceraian. Nauzubillah…

Kami sendiri, walau suamiku masih jauh dari segi ekonomi, tapi Alhamdulilah, ia telah berusaha menepati janjinya, “belum berhasil membuat kami kaya, tapi cukup berhasil membuat kami sekeluarga bahagia” dan aku cukup bahagia dengan apa yang telah kami peroleh saat ini.

Bagaimana dengan perbedaan pendapat antara kami? Aku yakin, sama dengan keluarga baru yang lain. Selisih juga kerap menimpa kami, dulu aku sering kali marah karena suami sering telat pulang dinas, sampai di rumah, bukannya bertanya kenapa ia telat, aku justru langsung berkicau di depannya yang sebenarnya sedang kelelahan, disaat seperti itu, suamiku selalu diam, tak pernah menjawab, hanya duduk, dan kadang mengambil kertas serta menuliskan “tadi ada pasien emergensi yang nyawanya hrs abang tolong, makanya abang telat pulang, sekarang adik marah-marah, apa itu ada gunanya? Kalau pun abang salah, abang minta maaf!” dia sering meninggalkan tulisan seperti itu di meja riasku, membiarkanku membaca, membiarkanku berpikir.

Pada kesempatan lain ketika aku marah tanpa alasan, dia hanya menulis “adik marah? Apa itu berguna buat kita?” sebuah cara yang cukup efektif meredam kemarahanku, bahkan membuatku malu.

Kesempatan lain ketika giliran suamiku yang ngambek karena kesalahanku, misal terlalu banyak menghabiskan uang untuk kepentinganyang tidak perlu, ia biasanya hanya diam, tidak banyak bicara. kalau ini caranya giliran aku yang harus pro-aktiv merayunya meminta maaf. Dan yang sering aku lakukan adalah mencoba menyuapinya makan, kalau ia masih marah, ia tidak akan membuka mulut untuk makan suapanku, tapi kalo ngambeknya udah reda, suamiku biasanya minta di suapin nasi😀

Kami selalu mencoba melestarikan keluarga kami dengan cara-cara kami sendiri, diantaranya saling berkomunikasi tentang apapun yang kami alami, baik di lingkungan kerja maupun dirumah. Masalah apapun, selalu didiskusikan bersama, tidak ada rahasia dalam keluarga dan semuanya terbuka, mungkin hanya masalah kerja yang menyangkut aib orang lain yang ditutupi suamiku. Setiap akan berangkat kerja dan saat ia tiba di rumah, suamiku selalu menciumi alis kami satu persatu. Dan hampir tidak ada perpisahan ataupun pertemuan tanpa kecupan di antara kami.

Sekarang, aku sedang terduduk di ruang keluarga rumah kami yang kecil, menjaga kedua anakku yang sedang terlelap tidur, dan rindu menunggu suamiku pulang dari tempatnya mencari rezeki.

Ya…aku rindu di kecup keningku oleh suamiku….nanti,….setelah ia pulang dari kerjanya….

“Sekian”

Hmmmmmmmmmmm…….nah…sekarang? apa menunggu pasanganyang pas atau mempersiapkan diri untuk mempertahankan sebuah keluarga yang sakinah????…………………….

Banda Aceh 140810

(credit untuk mbak mega yg udah jadi sumber inspirasi)

8 thoughts on “Kapan Menikah?

  1. itulah budaya indonesia. Mereka yg sdh berumur ttp blm menikah pasti dikejar2 pertanyaan spt itu, Sekarang pandai2 mrk menjwb biar tdk ada pertanyaan spt itu lsgi. Klau org jawa pacaran/mau menikah, biasanya org tua sll menganjurkan utk melihat bibit, bobot u bebet.Memang kadang2 pendidikan sangat penting ya dlm rmh tangga , klau tdk setara nanti tdk bisa mengimbangi gimana ya? ttp menurut saya itu bkn faktor utama, sekarang kita lihat dr sisi mana. tujuan utama orang menikah yg plg utamaitu apa?. klau memang sdh cocok u perbedaan tdk begitu menyolok kenapa tdk dilanjutkan menikah saja. saya pikir rezeki sdh ada yg ngatur jd jangan kuatir

  2. wah sngt menginspirasi ni buat sy
    krn sy msh bingung antara pilihan menikah atau kejar karier dl untk bahagiakan ayah sy
    dsamping jodohnya jg blm nemu hehehehhehehe
    tq mbak atas tulisannya

  3. Sejam lebih kami bernostalgia, hingga tiba-tiba dia berbicara agak serius, “ir boleh aq tanya sesuatu?” aku mengangguk penasaran, “kamu tahu sekarang kita sama-sama sendirian, jadi aku mau tanya…..mau ngak kamu jadi istri saya?” aku terkejut, kaget dan bingung, bener-bener bingung karena dari awal aku tidak pernah kepikiran akan berhadapan atau mendiskusikan masalah ini dengan dia, “aku tahu kamu bingung, aku juga bingung……tapi,….ya aku Cuma tanya, kalau kami tidak mau ya gak apa apa…..” lanjutnya lagi.

    nich yg buat ceritanya AGAM atau INONG??? kok saya jadi sedikit pusing membacanya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s