Kedipan Hati dan Akhir Jalan Hidup

Aku melintas di jalan yang berputar terjal dan kadang curam, namun aku selalu berhasil ke tujuan, jembatan penghubung dunia senantiasa berada di bawah cengkeraman kakiku. Sedang mereka yang coba melintas, jarang ada yang secepat aku berjalan, kasian mereka. aku berfikir bahwa aku adalah yang terbaik diantara kami, memperoleh apa yang aku dapatkan, dan melihat mereka dengan sebelah mata tertutup, Aku melihat segala yang aku dapatkan adalah “jatah” yang sudah sepatutnya aku peroleh, karena itu hasil dari kerja kerasku, sedang mereka yang tidak pernah seberuntung aku adalah orang-orang yang sudah seharusnya aku cibirkan, mereka hanyalah mereka dengan apa yang mereka miliki, di jalan mereka sendiri. Mereka seharusnya dipisahkan dari aku, bak politik apartheid yang pernah dikumandangkan Belanda di Afrika Selatan sana, karena mereka memang tak pernah sama dengan aku.

Namun, esok hari, saat matahari pagi tersenyum menyapa, aku melintas di jalan sempit berkelok, seperti biasa, aku melihat mereka, namun, kali ini aku terpaksa tidak memalingkan muka, karena melihat akhir mereka lebih indah dari jalan hidupku….jembatanku putus dan aku berbisu! Aku melangkah kebelakang, dan di tengah jalan yang berkelok, aku menyadarkan diri,, selama ini aku telah berangkuh dan bersombong, beruntung, tetalian di jembatan yang rusak itu mau berbisik kepadaku “janganlah kamu merasa lebih baik dari mereka, karena sesungguhnya tidak ada seorangpun dari kita yang pernah tahu akhir dari perjalanan ini.

Koeta Radja 260710.. 0:14 am
Credit to bu Ira atas Bahasa Inspirasinya😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s