Seandainya Suamiku…

Jarum jam di dinding terasa bergerak begitu lamban, dinginnya angin malam berlarian masuk kedalam rumahku, melalui jendela dan pintu dapur ruumah yang sedikit terbuka. Makanan di atas meja makan sudah mulai mendingin dan aku sepertinya tidak punya selera untuk menyantapnya. Sedang anak anakku sibuk bermain PS di ruang keluarga, aku sendirian di dapur, menunggu entah siapa, melamunkan entah apa.

Sekali lagi aku menatap keluar jendela, angin menerbangkan rambut hitamku dengan lembut. Diluar tampak mobil lalu lalang entah kemana, sekali2 ku dengar bunyik klakson, cukup riuh sebenarnya, tapi serasa sangat sepi bagiku.

Aku kembali duduk di kursi meja makan, sambil menatap sebuah foto yang tergantung di ruang keluarga, sedikit jauh memang dari tempat dudukku, tapi aku cukup jelas melihatnya. Toh itu aku, walau sebenarnya sangat jarang aku menatap foto itu. Disana aku berfose sendirian, di depan Papan nama sekolah tempat aku dulu belajar, dengan baju putih dan rok krem selutut, rambutku kupang dua, gaya khas jaman dulu, tampak cukup manis…sedikit aku tersenyum…mengenang kembali kisah hidupku.

****
Saat masih di SMA, aku pernah mendambakan seorang suami yang kaya raya, punya rumah besar, mobil mewah dan harta yang melimpah, kalau itu kudapatkan, derajatku di mata kawan-kawan akan tinggi, aku bisa plesiran ke luar negeri, seminggu sekali…iya, seandainya aku jadi istri konglemerat, aku akan sangat lucky…

Beranjak ke bangku kuliah, pandanganku tentang hidup mulai berubah, saat itu aku mendambakan seorang suami yang tidak hanya berharta, tapi juga punya otak dan bijaksana. Bersuamikan seorang dokter pernah terlintas dalam pikiranku, seorang pengacara, atau bahkan seorang akuntan yang berkantor di Bank multinasional…sekali lagi, derajatku dimata kawan-kawanku akan sangat disegani…itulah yang selalu terlintas di benakku.

Saat aku berada di semester terakhir bangku kuliah, aku pernah hendak di lamar bang kasim, pemuda putus sekolah tetangga depan rumah ku di kampungku, dia juga kawan sepermainanku waktu kecil, namun hanya lulus SMP dan kemudian nyantri ke pesantren kampung sebelah. Pekerjaanya saat itu adalah sopir angkot, mobil angkot pun masih milik pamanku. Sebuah profesi yang jelas jauh dari bayang-bayang kriteria calon suamiku….dan apa yang terjadi dengan lamaran? Jelas kutolak, bagaimana derajatku dimata kawan? Apa kata dunia, seorang sarjana bersuamikan seorang lulusan SMP yang kerjanya sopir angkot??….jelas cintanya KUTOLAK……

Lulus dari kuliah, aku beruntung mendapatkan pekerjaan di sebuah bank Nasional, jelas pekerjaan ini makin membuat aku “so high”….setahun setengah bekerja, aku berkenalan dengan seorang pria ganteng dan wealthy, seorang Bank consultant yang bertugas sebagai pengawas di bank tempat ku bekerja. Jelas dari segi fisik dan profesi, dia adalah pria idamanku, dengan berbagai cara, aku mencoba mencari perhatiannya, dan dengan kecantikanku, aku mendapatkannya…kami mulai bertambah dekat, walau agak susah karena pekerjaanya yang mengharuskan dia keliling ke seluruh cabang Bank di penjuru negeri ini, aku tetap berusaha “keep in touch” dengannya.

Jarak yang jauh kupangkas dengan kerajinanku menelponnnya, siang dan malam, telpon hanya satu-satunya senjata saat itu, bahkan hanya untuk kata “lagi ngapain say?”…maklum, SMS belum ada saat itu, pun begitu… aku selalu mencoba memberikan perhatian, hingga yang kudambakan pun aku dapatkan.

Setahun setelah berkenalan, dia melamarku, wow….whats a great….

Dia membelikan aku sebuah rumah mewah di kawasan dekat dengan kantorku, kawasan itu diperkirakan akan menjadi pusat perputaran ekonomi dan hal ini terbukti dengan banyaknya pertokoan yang sedang di bangun di daereh itu…..

Yeah…I have everything……

10 tahun setelah menikah, aku dikaruniai dua orang anak yang lucu-lucu dan keduanya telah bersekolah. namun kondisi kesehatanku tidak lagi mengizinkan aku untuk bekerja di kantor, sehingga mau tak mau aku harus cuti panjang dan memilih untuk tinggal di rumah mengurus kedua anakku, Jadi pekerjaanku kini murni adalah seorang ibu rumah tangga.

Sedang suamiku, telah mendapatkan promosi hingga menjadi Direktur Eksekutive dan selalu bertugas di luar kota. Bahkan sejak kami menikah, dia hanya pulang sebulan sekali, itupun hanya untuk beberapa hari. Pernah aku minta untuk ikut dan tinggal dengannya, tapi itu sesuatu yang tak mungkin, selain karena pekerjaannya yang super banyak dan selalu pulang malam, penempatannya di sebuah cabang suatu daerahpun paling lama 3 bulan, ”bagaimana dengan sekolah anak-anak? Apa mereka harus pindah sekolah tiap bulan?” suatu hari katanya. Dan aku menyerah…

Sepuluh tahun menikah, hanya setahun aku merasakan kehidupan “normal” suami istri karena aku bisa lebih banyak waktu dengannya, itupun setelah pulang kantor, setelahnya hasrat cinta kami hanya tersalurkan melalui telepon, dan sekarang lewat sms.

Saat anak pertama kami lahir, dia sedang di Kalimantan untuk sebuah urusan yang sangat penting, aku bisa memakluminya, anak kedua kami lahir, dia malah sedang keluar negeri, sedang mengikuti konferensi, juga tugas kantornya yang tidak bisa di tinggalkan, dan kini, setelah kedua anak kami bersekolah, mereka seolah anak yang tak pernah ber bapak, bapak mereka hanya suara yang hadir lewat pesawat telepon.

Harus aku akui, suamiku adalah seorang yang bertanggung jawab, dengan segala kesibukannya, dia selalu mewajibkan diri untuk pulang ke rumah minimal sebulan sekali, dan setiap tahun di masa cutinya, kami sekeluarga di bawanya ke luar negeri, tidak hanya Asia, negara-negara di Eropa, Amerika bahkan Afrika pun telah kami jelajahi sekeluarga, tapi hanya untuk beberapa hari saja kebahagiaan yang bisa kudapatkan…

Keberadaanku di mata kawan-kawan arisanku sangat di hormati, bagi mereka aku adalah nyonya yang paling beruntung di dunia, dan bagiku sendiri, mungkin cita-cita yang dulu pernah aku impikan, kini telah ku dapatkan…

Dan, bagaimana dengan bang kasim yang dulu pernah melamarku? Setelah lamaran itu ku tolak, dia banting sopir jadi pedagang sayur asongan dengan becak miliknya sendiri hasil tabungannya, 3 tahun setelah itu dia juga menikah dengan seorang gadis yang juga sarjana tapi beda jurusan denganku. Mirna, istri bang kasim juga kawan sepermainanku waktu kecil, dan saat hendak di lamar bang kasim, dia pernah curhat sama aku, jelas-jelas aku menyuruhnya menolak lamaran kosim..”bodoh mir, masa kamu mau ama tukang sayur yang hanya lulusan SMP? Kamu kan sarjana?” bentak ku waktu itu “udah lah dwi, mungkin itu jodohku, lagian, selama ini cuma bang kasim yang mau perhatian sama aku” jawabnya simpel, “denger mir, kami itu sarjana, bisa kerja di perusahaan, bisa dapat suami yang lebih wealthy, bisa lebih mir, kenapa harus dengan orang yang kerjaannya ngak jelas!!!?” jawabku lebih keras….”bukan kenapa wi..tapi begitulah adanya” jawaban mirna seadanya yang membuatku kesal saat itu…

Setelah menikah, mereka masih tinggal di rumah orang tua mirna untuk beberapa tahun, hingga anak kedua mereka lahir, mereka sanggup menyewa sebuah ruko yang kini tepat berada di depan rumahku.

Dan sejak saat mirna pindah kesitu, aku mulai mendapatkan kesenangan baru, setidaknya aku punya kawan lama yang bisa ku ajak berbicara saat-saat kami punya waktu luang. Dan sebenarnya setelah anakku berangkat sekolah, waktuku selalu luang, karena untuk masak-masak dan urusan beres-beres rumah- aku punya 3 orang pembantu.

Dan sejak saat keluarga mirna pindah kesitu juga, kerinduanku akan sebuah keluarga juga menggebu. Tiap hari, aku melihat kemesraan yang tak pernah hinggap di keluargaku.

Tiap pagi, kasim selalu menyempatkan untuk mengantar kedua anaknya kesekolah dengan mobil pick-up untuk jual sayurannya, walau pernah beberapa kali aku minta mereka untuk diantar sopirku, berangkat sama-sama dengan anak-anakku. Namun bang kasim selalu berkilah “biar saya yang antar sendiri dwi, mereka kan anak saya, saya ingin sekali mengantar mereka sekolah, karena saya dapat merasakan itulah salah satu tugas seorang ayah” jawab kasim suatu hari.

Tiap pagi aku juga melihat, mirna mencium tangan suaminya saat kasim hendak keluar mengantar anaknya, tiap hari juga aku melihat, ada romantisme kebahagiaan ketika sang suami mengecup kening istri dan kedua anaknya, sesuatu yang belum tentu aku dapatkan sebulan sekali.

Tiap hari minggu aku lihat, dengan mobil sayur lusuhnya, kasim membawa keluarganya ke pantai pinggiran kota. Dan makan siang nasi rantangan masakan mirna bersama-sama. Aku tersadar, mereka lebih menikmatinya dari pada wisata kulinerku di eropa.

Dan kini, aku duduk di dekat jendela dapur rumahku, aku menatap ke kejauhan, kerumah seberang jalan, kerumah kasim yang sedang makan bersama di ruang keluarga yang sempit, aku melihat mirna sedang menyiapkan makanan, kasim terduduk membimbing kedua anaknya belajar mengaji…hingga hidangan selesai disiapkan dan mereka menyantap bersama..

Sayup-sayup suara Al-qur’an dari anak kasim membuat air mataku mengalir deras, aku tak sadar, entah kenapa…aku menangis, aku melihat kedua anakku yang masih sangat sibuk bermain PS di ruang keluarga kami yang besar, sangat besar, tapi kini baru aku rasakan bahwa rumah kami itu terlalu kosong, kosong tanpa romantisme keluarga yang sebenarnya..

Aku tersadar, seumur kami menikah, aku belum pernah memasak untuk keluargaku, aku jarang di kecup di kening oleh suamiku saat dia pergi dan pulang dari kantor, bahkan aku tidak pernah sekalipun melihat suamiku mengantar anak kami kesekolah, hanya sopir pribadiku yang kini bak menjadi ayah buat anak-anakku.

Air mataku mengalir deras, sekali lagi aku melihat kejendela rumah seberang, mereka sedang asiknya bercengkrama sambil makan malam, sedangkan aku sedang dilanda rasa kesepian yang sangat dalam.

Tiba-tiba sebuah SMS masuk ke hapeku, ternyata itu dari suamiku “say…abang sedang mau breakfast di Hilton hotel..love” yah, 4 bulan suamiku tak sempat pulang, sedang tugas ke negeri orang, dan di saat ini, saat aku sedang menangis sendirian, dia sedang asiknya makan makanan buatan orang, saat aku rindu di peluk, di malah jauh dari jangkauan..

Aku tak sanggup lagi melihat ke jendela rumah seberang, sms dari suami ku pun tak sanggup kubalas. Aku hanya coba diam, tapi hanya mulutku, sedangkan hatiku sedang menggejola, rindu, rindu akan dekapan, dekapan sebuah keluarga yang makin jarang aku dapatkan…

Sekali lagi kutatap foto SMA ku di dinding itu, aku bertanya pada diriku, apakah aku telah mendapatkan segalanya?, atau malah aku belum mendapatkan apa-apa..??

sekali lagi aku menoleh ke jendela rumah seberang jalan…

Aku mencoba tersenyum….seandainya suamiku……!!!

Moersalin.

(Note: Tanpa Tanggal, tp nulisnya di taun 2009, file asli hilang di FS)

10 thoughts on “Seandainya Suamiku…

    • gk ada tanda2 apa….itu kan cerita lama…di revisi ulang..
      ni lg mikir mau nulis kisah ttg seorang anak manusia yg capek2 kuliah tp kerja di sawah…hehehe..eh…kerja di dapur maksudnya….:D

  1. Ini jg cerita yg bagus, contoh yg bagus utk setiap manusia, biar orang tidak punya rasa sombong dan takabur, aku suka ……..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s