Pengantin Lari

Sebenarnya saya malas menulis dengan topic ini lagi, Karena ada kawan yg protes, “kok nulis nya sekitar itu2 aja? Gk ada ide laen apa?” begitu protes dia. Namun karena memang dalam beberapa hari terakhir tidak ada ide lain untuk di tulis, daripada setoran tulisan juga kosong, akhirnya saya nekat menulis tentang topic “yang ini2 saja”!

Selamat membaca!

The runaway bride!

Well, semalam saya chatting dengan seorang kenalan baru, seorang cewek yang udah sarjana, sudah bekerja dan sudah cukup mapan untuk usianya. Chatting yang awal2nya berkisar tentang pekerjaan justru berbelok arah kea rah pernikahan. Entah siapa yang memulai, namun kami mencoba menikmatinya!

Bait demi bait berlalu begitu saja, ia bercerita bahwa sebagai anak pertama, “linkungannya” sudah menuntut ia untuk segera berkeluarga, namun sebagai seorang sarjana yang sudah mencintai pekerjaannya, ia sepertinya susah untuk meninggalkan pekerjaannya. Disisi lain, “tuntutan lingkungan” juga membuat dia harus menguras otak bagaimana mensiasati supaya lingkungan tsb tidak “teupeh” begitu juga pekerjaan. “untung sekarang masih single, jadi bisa beralasan kalau di tanya” katanya berkesimpulan….

Saya rasa mekanisme pertahanan ego nya cukup bagus, bisa menyeimbangkan dua hal yang susah untuk diminta pengertian, rasionalisasi yang ia buat juga cukup membuatnya “survive” hingga saat ini.

Namun ceritanya lain ketika dia menyatakan “nanti, kalaupun saya menikah, saya pengen ngekos and suami juga ngekos, jadi gk harus tinggal bersama….namun tanggung jawab masing2 tetap jalan, ya kayak orang pacaran lah, bisa ketemu dan jalan bersama tiap hari, namun ini kan udah sah”…dia beralasan bahwa dengan cara seperti itu, pekerjaanya tidak akan terganggu dan dengan cara ini pula, ia beralasan sebagai proses adaptasi untuk saling mengenal, …..

Dueerr….saya kaget, karena seumuran ini, belum pernah mendengar ada orang yang punya cita seaneh ini. Kalaulah setelah menikah harus berpisah karena sesuatu hal yang tidak mungkin di hindari, misalnya salah satu pasangan harus pergi jauh untuk kuliah, atau bekerja, saya rasa tak masalah. tapi ini, mereka punya kesempatan untuk bersama, malah ia memilih untuk berpisah…dengan alasan2nya yang juga aneh…hehe..padahal, yang sering kita dengar, orang akan melakukan apa saja untuk bisa bersama dengan pasangannya, apalagi kalau baru menikah…yakan?

Bon, saya menghargai keinginannya tsb, karena seaneh apapun keinginan seseorang, itulah hak nya. Namun, karena ia juga meminta kometarnya, saya berusaha untuk memberikan pandangan, yang bisa benar dan bisa juga salah.

Alasan utama kenapa iya propose seperti itu, saya tebak karena ia belum pernah berpacaran sebelumnya. Dan belakangan ia mengaku bahwa ia memang belum pernah pacaran. Bahkan ia juga mengaku kalau ia tak ingin pacaran, kalau merasa saling cocok, ya menikah aja….suatu prinsip hidup yang sangat jarang saya jumpai dewasa ini, dan saya sangat salute dengan prinsip tersebut. Kalau kata orang bijak seperti saya (jampok mode: on), “my first love is my wife/hubby”. Hehehe

Selanjutnya, tentang ide untuk berpisah sementara untuk memberikan kesempatan saling mengenal, sekilas juga masuk akal, NAMUN, apakah harus seperti itu?,apakah untuk saling mengenal harus hidup berpisah? Dan apakah dengan berpisah tersebut bisa menjamin mereka saling kenal lebih baik? Apakah dengan berpisah bisa membuat mereka lebih mengerti satu sama lain? Apa bukan sebaliknya, dengan adanya kesempatan selalu bersama, justru memberikan waktu untuk saling mengenal, saling mengerti kelebihan dan kekurangan masing2? Bisa lebih tahu, apa yang diinginkan pasangan darinya dan apa yang ia bisa berikan untuk pasangan sehingga mereka bisa saling melengkapi satu sama lain?? Belum lagi “tuntutan lingkungan” yang meminta mereka untuk segera memiliki keturunan, apakah dengan berpisah mereka punya kesempatan untuk……..(censored…u know what I mean..)..kalau kata kawan saya di kampong “ rugo meuh nyan…pajan na sinyak” hehehe,

Teringat cerita dari seorang nenek, kisah pernikahannya puluhan tahun silam, saat tidak ada HP, email maupun chatting. Menurut si nenek, saat iya dinikahkan oleh orang tuanya waktu zaman perang dulu. Ia tidak kenal sama sekali dengan calon suaminya, tiba2 sudah ijab qabul dan ia menjadi istri seseorang. Saya sempat bertanya, “kapan kenalannya?”, “ya setelah menikah lah” jawabnya, kalau ada masalah keluarga gimana nek, apa pernah? “ tanyaku penasaran..selanjutnya ia bercerita panjang lebar tentang hakikat hidup dan membangun sebuah keluarga!

“Nak, hidup ini adalah keindahan, keindahan hidup adalah saat kita menikmati sebagai sebuah keindahan. Kita tak akan pernah merasa indah atau bahagia kalau kita tidak menyatakan itu indah dan bahagia. Sama seperti saat kita meminum segelas air tawar. Air tawar itu bisa beraneka rasa sesuai dengan rasa apa yang kita inginkan dari air tersebut. Ada orang bilang air ini enak, kenapa bisa enak? Karena iya mempersepsikan air tawar itu sebagai sesuatu yang enak. Ada juga orang yang menganggap air tawar itu pahit, karena memang ia sebenarnya ia pingin air itu pahit. Walau rasa sebenarnya air itu adalah tawar. “kita yang meminum, kita juga yang memberikan rasa pada air itu”.

“Nah, tentang kehidupan sebuah keluarga, sama seperti air tawar yang nenek bilang tadi, akan terasa indah dan manis kalau kita menginginkan keluarga itu indah dan manis, dan bisa juga pahit dan busuk kalau kita menginginkan demikian. Kita tidak harus menunggu bahwa suatu hari hidup kita akan bahagia, akan kaya, dan sebagainya, kerena memang kebahagian itu ada di depan mata kita, mau tidak kita mengambilnya? Nikmati yang ada, anggap itu sebagai sebuah kebahagaian, maka kamu akan merasa bahagia, tidak harus menunggu “suatu hari nanti”. Tapi nikmati yang kini sudah kamu miliki.

“Begitu juga dengan kekayaan. Orang selalu keluar pagi dan pulang malam, untuk katanya mencari uang. Namun, sebarapa banyak dari uang yang ia cari bisa ia makan? Dan apakan dengan segala yang ia miliki ia menganggap ia sebagai “kaya”? belum tentu….buktinya banyak orang yang lebih dari mampu tetapi selalu menganggap dirinya sebagai miskin, sehingga tak segan2 mengambil hak dan jatah orang. Semua di kuet untuk dia”.

Menurut nenek, setiap orang bisa menjadi orang yang paling kaya di dunia ini, bahkan bisa mengalahkan Bill Gates (keren banget nenek ni, kenal ama yahwa Bill Gates :D), karena” orang yang paling kaya adalah orang yang telah merasa sudah cukup dengan apa yang telah ia milikii”. Pertanyaannya, pernahkah kita mereasa cukup dengan apa yang kita miliki?”

Nenek terdiam, menarik nafas panjang, memandang hampa kedepan…..saya kembali bertanya “kalau begitu nek, bagaimana caranya sebuah keluarga itu di bangun, sehingga kita bisa merasa nyaman dengannya, seperti yang nenek lakukan?”

Nenek memandang kearah ku sekilas, membungkus ranub dengan jari2nya yang berkerut, dan mengunyah dengan giginya yang hanya tinggal beberapa!

“Well, seperti yang nenek bilang tadi, saat nenek menikah, nenek tidak kenal sama sekali dengan kakek, tp nenek pasrah dan yakin bisa hidup dengan dia, kami terus berusaha untuk mengenal satu sama lain, mencoba untuk mengenal, kelebihan dan kekurangan masing-masing, menciba saling melengkapi dan menganggap apapun yang kami miliki adalah kekayaan yang terbesar bagi kami….

“Nanti kalau kamu menikah, jangan pernah meminta pasanganmu untuk memberikan sesuatu yang tidak ia sanggupin, tapi terimalah apa yang ia berikan sebagai sesuatu yang besar, seperti saat kita minum air tawar tadi. Jangan berharapa banyak, tapi impikan yang kecil-kecil saja. Karena kalau kamu mengharapkan yang besar2, itu akan sulit tercapai, tapi harapkan yang kecil2 sambil terus berusaha untuk mendapatkan yang besar. Karena jika kamu mendapatkan yang kecil tadi, maka itu akan menjadi besar bagi kalian”.

“Jangan juga kamu pinginnya selalu untuk di mengerti, tapi pikirkan diri kamu sendiri, sejauh mana kamu bisa dan layak untuk dimengerti oleh orang yang lain, dan juga sudahkah kamu mengerti orang lain?”

“Rumah tangga,( atau istilah kalian sekarang CINTA), ibarat sebuat bunga, yang harus di tanam di tempat yang sesuai, harus di pelihara, dirawat, di sirami, semakin baik kamu rawat, semakin baik pula tumbuhnya, akarnya juga semakin kuat, Tak akan pernah rubuh di hantam angin…itu lah keluarga. Kalaupun kamu ingin bunga itu tumbuh lebih baik, kamu bisa member pupuk, dan pupuk ini tidak harus sesuatu yang mahal yang harus kamu beli di pasar, tapi cukup kotoran lembu yang sebenarnya jorok bagi manusia, namun bagi si bunga, ia menganggap kotoran itu sebagai sesuatu yang luar biasa sehingga ia makin semangat untuk tumbuh…sekali lagi, semuanya tergantu bagaimana kita menilai sesuatu”.

“Kalau di keluarga kamu nanti terjadi kesalah pahaman, maka bersabar dan diamlah, karena diam itu adalah obat yang paling mujarab, berpikir positif bahwa dia menyayangi dirimu dan begitu juga yang harus kamu lakukan kepada dia. Jangan pernah melawan kekerasan dengan kekerasan, begitu juga perkataan dengan perkataan, kerena jika kamu menjawab perkataanya dengan lebih keras, maka sebuah akar dari pohon bungan tadi tercabik, tapi diam dan tersenyum lah…kerena tersenyum itu bisa membuat hati yang sekeras baja pun akan melepuh”.

Nenek sudah cukup banyak makan asam, garam, cabe rawit, boh tomat, boh amplam, bohyee dan sebagainya…tp nenek belum pernah makan strowbery…kamu belik lah satu kilo buat nenek, nenek lagi hawa ni…..wakakakakakaka

Trus kamu jangan lupa tuh, ada hadis nabi yang melarang meninggalkan istri lebih dari…..lupa nenek berapa hari, kalu gk salah 44 hari, kamu liat sendiri aja lah, karena kalau lama2 ditinggal, bisa kaco dunia nanti…:D

jadi, haruskah ada sebuah perjanjian pra nikah antara keduaa pasangan? sekali lagi tergantung kepada isinya, jika isinya untuk kemaslahatan mereka berdua, saya rasa OK OK aja…tp jika isinya justru bertentangan dengan hukum agama dan norma kehidupan sebuah budaya? saya rasa harus di hindari….so, liat dulu apa isinya, reasonable, discussable and solveable gk? jika iya, saya rasa gk masalah, namun jika tidak, maka misteri the runaway bride akan terjadi lagi😀

Hmmmmm…..itu aja doeloe

One thought on “Pengantin Lari

  1. Kalo sdh niikah tapi mau hidup sendiri2 karena cinta pekerjaan, itu bukan alasan yg ……….. kali aja si wanita gak mau repot meladeni si suami (masakan makanan, mencuci pakean usw) …. yg penting sdh nikah utk memenuhi tuntutan keluarga….. (aku tau siapa tuh cewek yg anda maksud). Wahh… kalo omong lama2 sama anda, tar jadi obyek jg nih ampuuuunnnn ……. sorriiiii…….!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s